Saturday, 25 October 2008

Besanku Kekasihku

Kejadian ini berlangsung beberapa bulan yang lalu ketika anakku melangsungkan
pesta pernikahannya di kota kecil Pr di Jawa Timur yaitu di tempat calon
mertuanya bernama Pak Har (60 Thn) dan Bu Har (46 thn) yang masih menjadi kepala
Desa. Aku dan istriku sebetulnya tidak setuju kalau anakku yang baru saja lulus
dari salah satu universitas di Jawa Tengah harus segera kawin dengan pacarnya
yang sama2 baru lulus. Rencanaku biar anakku dapat kerja yang mapan dahulu
sebelum kawin, tetapi Pak Har dan Istrinya terus mendesak agar mereka berdua
cepat cepat di kawinkan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan Bu
Har sudah ingin menimang cucu, katanya. Tetapi karena anakku setuju dengan
permintaan keluarga yang perempuan, ya sebagai orang tua tidak bisa berbuat lain
selain merestuinya.
Tiga hari sebelum hari pernikahannya, aku dan istriku sudah berada di kota Pr.
dan disambut dirumahnya dengan hangat oleh calon besanku Pak Har dan bu Har
serta keluarganya. Aku dan istriku benar2 dibuat surprise dan tidak terbayangkan
sebelumnya, orang2 yang ada di rumah itu begitu hormat kepada keluarga Pak Har
dan yang lebih mengherankan lagi, rumahnya begitu besar dikelilingi tanaman
buah2an dan ada pendoponya yang luas serta di salah satu sisinya ada seperangkat
gamelan jawa. Bagaimana tidak heran, jabatan Pak Har hanyalah kepala desa yang
tidak menerima gaji, tetapi hanya menerima tanah bengkok selama dia menjabat.
Yang membuatku lebih terpesona adalah Bu Har calon besanku perempuan, walaupun
usianya sudah tidak muda lagi, tetapi dengan tubuh yang semampai tidak terlalu
tinggi serta kain kebaya yang dipakainya serasi dengan warna kulitnya yang putih
bersih dan kuperhatikan Bu Har terlihat sangat anggun, apalagi sisa2 kecantikan
diwaktu mudanya masih terlihat, sehingga membuatku terpesona dan tidak ingin
melepas memandangnya dan kadang2 aku harus mencuri curi pandang, agar istriku
tidak mengetahuinya apabila aku memandangnya soalnya kalau sampai ketahuan,
bisa2 terjadi perang besar. Bu Har bukannya tidak tahu kalau sering kupandangi
dengan penuh kekaguman dan ketika beberapa kali bertemu pandang, kuperhatikan
dia selalu tersenyum sehingga terlihat giginya yang putih dan rata.
Hari pertama kedatanganku di kota ini, setelah makan siang bersama calon
besanku, Bu Har lalu disuruh suaminya menghantarkan aku dan istriku untuk
beristirahat di rumah sebelah… "Buuuu….. sana antar calon besan kita untuk
istirahat di tempat yang sudah kita siapkan", kata Pak Har dan sesampainya di
rumah sebelah yang masih satu halaman dengan rumah induk, tenyata rumahnya pun
cukup besar dan kamar yang disediakan untukku dan istriku pun sangat besar
walaupun tidak ada kamar mandi didalamnya. Setelah menunjukkan tempat2 yang
dianggap perlu termasuk kamar mandi yang agak jauh dibelakang, lalu bu Har pamit
untuk kerumah sebelah. "Terima kasih… mbaaak… atas semuanya, kataku sambil
menjabat tangannya dan jabatan itu tidak kulepas dengan segera dan Bu Har pun
tetap tidak menarik tangannya dan kembali kulihat senyumannya yang manis, sambil
tiba2 menarik tangannya setelah mungkin merasa tangannya kujabat terlalu lama
dan terus meninggalkanku kembali ke rumah sebelah.
Sore harinya ketika aku dan istriku sedang duduk di teras, kulihat Pak Har dan
istrinya muncul dari belakang lalu duduk ngobrol menemani kami berdua dan tidak
lama kemudian datang dua wanita dengan membawa pisang goreng serta teh panas.
Setelah ngobrol kesana kemari membicarakan acara untuk pernikahan, Bu Har segera
pamit kebelakang entah untuk apa, sehingga obrolan dilanjutkan oleh kami bertiga
saja. Karena tadi aku terlalu banyak minum air, terasa aku ingin buang air kecil
dan setelah permisi kepada pak Har untuk kebelakang sebentar lalu aku beranjak
kebelakang menuju kamar mandi yang tadi ditunjukkan oleh bu Har, karena sudah
begitu kebelet untuk kencing lalu sambil menurunkan resleting celanaku serta
mengeluarkan meriamku, kudorong pintu kamar mandi dengan bahuku dan terus masuk
kamar mandi, tetapi alangkah kagetnya ketika didalam kamar mandi itu kulihat bu
Har sedang berada di kamar mandi serta telanjang bulat seraya menggosok gosok
badan dengan tangannya. Kulihat bu Har pun begitu terkejut ketika mengetahui ada
orang masuk kekamar mandi dan secara reflek bu Har berteriak kecil…..
"maaaaaaas," sambil berusaha menutupi badannya dengan kedua tangannya. Setelah
pintu kamar mandi kudorong tertutup, kudekati dia sambil kupegang kedua bahunya
serta kukatakan dengan suara sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar….
"mbaaaak…… maaa’aaaaaf….. saya tidak tahu kalau… embak lagi mandi……" "Sudah…
laaaah," sahut bu Har juga sedikit berbisik…. sana… keluar…… nanti ada yang
lihat….. lagian mau apa siiiih… maaaas…?" "Saya… kebelet kencing… mbaaaak…,"
sahutku dan disambutnya dengan kata2….. "cepaaat….. kencingnya….. dan cepat
keluar….." Tanpa komentar lagi aku keluarkan meriamku yang setengah berdiri
karena melihat tetek dan memek bu Har yang ditumbuhi bulu jembut yang hitam
lebat dan aku terus kencing dengan posisi menyamping dan sambil kulirik, kulihat
mata mbak Har sepertinya sedang tertuju kearah meriamku. Setelah selesai
menyelesaikan kencingku dan kumasukkan meriamku kembali kedalam celana, sambil
beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek teteknya
yang tertutup setengah oleh tangannya sambil kuucapkan….. "mbaaaak…..
maaaa’aaaaf….. yaaaaa…" dan bu Har secara reflek menampar tanganku seraya
berkata setengah berbisik …… "kurang…. ajaaaar….. awas…. nanti."
Aku segera kembali ke depan dan kulihat istriku dan Pak Har masih ada sambil
ngobrol dan aku kembali duduk seolah olah tidak terjadi apa apa, tetapi istriku
tiba2 nyeletuk… "Paaak….. buang air kecil saja…. bajunya sampai basah semua……,"
aku tidak menanggapi kata2 istriku itu dan kucoba menenangkan diri sambil
kuambil minumanku di gelas. Setelah beberapa saat kami meneruskan obrolan, Bu
Har datang dari arah belakang dan sekarang sudah tidak memakai setelan kebaya
lagi tetapi memakai rok terusan, walaupun begitu tetap saja membuatku terpesona
apalagi bentuk kakinya yang kecil dam putih mulus, setelah dekat dengan kami
bertiga serta duduk disalah satu kursi yang kosong, lalu berkata …. "buuu…
paaaaaak…..," seraya menengokku dan Istriku bergantian…. "silahkan mandi dulu
biar terasa segar sebelum kita makan….." dan setelah itu bu Har menggeser kursi
nya sedikit membelakangiku. Tidak berlama lama, aku langsung ke kamar mengambil
pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Sengaja kamar mandinya tidak
kukunci dengan harapan siapa tahu bu Har pun berbuat yang sama seperti tadi,
tapi… kupikir mana mungkin… jadi segera saja kubuang jauh jauh pikiran itu dan
sambil mandi kubayangkan tubuhnya bu Har yang walau sudah berumur dan teteknya
yang terlihat sedikit karena tertutup tangannya tidak begitu besar kira2 36D
serta sudah agak turun dan memeknya yang tertutup tangan satunya juga mempunyai
bulu jembutnya yang lebat tetapi menurutku masih cukup mempersonaku, sehingga
meriamku menjadi bangun dan menjadi lebih tegang ketika batangnya kugosok gosok
dengan sabun. Sampai mandiku selesai, ternyata harapanku tinggal harapan saja…..
dasar pikiran bejat. Ketika kembali ke depan ternyata kedua calon besanku serta
istriku masih asyik ngobrol dan sambil duduk kembali aku langsung nyuruh Istriku
untuk gantian mandi.
Malam harinya sewaktu makan ber empat diruang makan, entah kebetulan atau karena
Istriku dan Pak Har telah duduk berhadapan terlebih dahulu, sehingga mau tak mau
aku dan bu Har jadi duduk berhadapan. Ketika sedang enak2nya makan, tiba2 kakiku
tersentuh kakinya bu Har dan anggapanku mungkin tidak sengaja sewaktu menggeser
kakinya, apalagi ketika kulihat wajahnya bu Har tetap biasa saja seperti tidak
terjadi sesuatu dan meneruskan makannya dengan agak menunduk. Untuk
membuktikannya, sambil melepas sendal yang kupakai dan kulirik dimana posisi
kaki bu Har di kolong meja, lalu pelan pelan kuletakkan kakiku diatas kakinya
yang memakai sendal jepit sambil kupandang wajahnya. Kulihat bu Har tidak
bereaksi dan tetap saja meneruskan makannya serta kakinya yang kuinjak itu
didiamkannya saja, dan pelan pelan injakanku itu kuberi tenaga sedikit dan
terasa bu Har secara perlahan lahan menarik kakinya. Aku diamkan saja kakiku
ditempatnya seolah olah aku menginjaknya secara tidak sengaja, tetapi beberapa
saat kemudian terasa kakiku di injak oleh kakinya yang sudah tidak memakai
sendalnya lagi, jadi aku mengambil kesimpulan kalau tendangan kaki bu Har tadi
itu pasti disengajanya. Aku diamkan saja injakkan kakinya dan tidak lama
kemudian telapak kakinya di geser2kan di atas kakiku dan tentu saja hal ini
tidak kubiarkan, jadi sambil tetap meneruskan makan kaki kami terus bermain
dikolong meja makan dan lama2 jadi bosan juga. Lalu kutarik kaki kananku yang
diijaknya menjauh dari kaki bu Har dan sambil mengambil gorengan tahu yang agak
jauh dari jangkauanku, kugeser kursiku maju kedepan merapat di meja makan dan
pelan pelan kuangkat kaki kananku agar tidak ada kecurigaan dari istriku dan Pak
Har serta kuselonjorkan kedepan, maksudku untuk kuletakkan dikursi diantara
kedua paha bu Har, eh…… tidak tahunya terantuk salah satu dengkul bu Har dan
kulihat bu Har agak terkejut sehingga garpu yang dipegangnya terjatuh diatas
piringnya dan semua mata tertuju kearah bu Har dan Pak Har berkomentar….
"buuuuu…. makannya jangan buru buru…. bikin malu calon besan sajaaaaa…..," dan
kesempatan ini kugunakan untuk menggeser kakiku dan kuletakkan di ujung kursinya
sehingga telapak kakiku terasa hangat terjepit diantara kedua pahanya dan secara
perlahan lahan kuelus elus salah satu pahanya dengan telapak kakiku dan bu Har
kulihat memandangku sejenak dengan matanya sedikit melotot dan kembali
meneruskan makannya. Aku mencoba menjulurkan kakiku lebih dalam lagi agar dapat
mencapai pangkal paha bu Har, tetapi tetap saja kakiku tidak dapat mencapainya,
karena kursi yang diduduki bu Har agak renggang dari meja makan dan aku mencari
akal bagaimana kakiku bisa menyentuh memek bu Har. Ketika aku sedang memutar
otakku, eh tidak tahunya bu Har menggeser tempat duduknya maju kedepan mendekati
meja makan ketika akan mengambil buah2an setelah makannya selesai dan kesempatan
ini tidak kusia siakan, dengan hanya mengulurkan kakiku sedikit tersentuhlah
pangkal pahanya yang terasa sangat halus dan membuat bu Har agak terkejut
sedikit tetapi setelah itu diam saja. Lalu kugesek gesekkan jari kakiku ke
memeknya yang terasa tertutup dengan celana dalamnya dan sesekali kuperhatikan
mata bu Har tertutup agak lama yang mungkin sedang menikmati enaknya gesekan
jari kakiku di memeknya, tapi untung istriku dan Pak Har tidak memperhatikannya
karena sedang sibuk dengan buah2an yang dimakannya. Gesekan kakiku terus
kulanjutkan sambil ngobrol berempat setelah buah2an yang kami makan habis.
Ketika Pak Har sedang bertanya sesuatu kepadaku, tanpa sadar sebelum
pertanyaannya kujawab, aku berseru…. "aduuuh…..," sehingga istriku dan kedua
calon besanku melihat kearahku dan istriku langsung bertanya… "kenapa….paaah…?"
untuk tidak menimbulkan kecurigaan langsung saja kujawab….. "kekenyangan….. dan
perutku agak sakit tergencet ikat pinggang…," kataku sekenanya sambil
kulonggarkan ikat pinggangku…. "habis… makanan calon besan kita terlalu enak
sih….." tambahku sedikit memuji, padahal aku berseru aduh tadi itu karena kaget
ketika kakiku tiba2 dicubit oleh tangan bu Har yang tanpa setahuku di taruh nya
kebawah meja. Aku cepat2 menarik kakiku dan menurunkannya ketika Pak Har tiba2
bangkit dari duduknya dan mengajakku dan istriku kembali ke teras rumahnya.
Esok harinya, aku dan istriku merencanakan pergi kekota Mlg. yang jaraknya hanya
kira2 2 jam perjalanan dengan mobil untuk menjemput anakku yang nomer 2 dan yang
sedang kuliah disana agar bisa mengikuti acara pernikahan kakaknya, tetapi entah
karena makanku terlalu banyak atau karena tadi malam ngobrolnya sampai larut
malam dan hawa kota kecil Pr. yang agak dingin, perutku terasa sakit atau
seperti masuk angin sehingga beberapa kali aku harus ke belakang. Sehingga pagi
harinya aku minta istriku saja yang menjemput anakku dengan sopir. Setelah
istriku berangkat, tidak lama kemudian Pak Har dan istrinya muncul dikamarku
serta menanyakan kondisiku. "Paaak…. kata ibu lagi sakit perut yaaaa… ma’af….
mungkin ada makanan yang tidak cocok dengan perut bapak….. yaaa," kata Pak Har
dengan penuh rasa khawatir sedang istrinya hanya diam saja disampingnya. "Oooh….
bukan sakit peruuut… kok… paaak," sahutku sambil kutinggikan bantalku sehingga
posisi tidurku setengah duduk…. "cuma.. masuk angin sedikit…. kayaknya….
sebentar lagi juga sembuh," sahutku seraya kupandangi keduanya bergantian. "Apa
bapak biasa minum obat tolak angin…. biar saya ambilkan..yaaa…," kata bu Har.
"Aaahhh… nggak usah lah buu…., tadi sudah dipijitin sedikit oleh istri saya…..
biasanya sih dikerokin…. tetapi karena takut ke Mlg nya kesiangan….. jadi
kerokannya nggak jadi…," sahutku. "Lho… paaaak… kalau biasa kerokan… biar istri
saya saja yang ngerokin… dia itu ahlinya… saya kalau masuk angin… paling cepat
dikerokin lalu dipijitnya… langsung sembuh," sahut Pak Har… "iyaaa.. buuu…
tolong dikerokin saja dan setelah itu baru minum obat tolak angin…. soalnya
kalau dibiarkan bisa kasep nanti…. apalagi besok adalah acara resmi
perkawinannya… ayooo.. sana buuuu… ambil alat kerokannya," tambah Pak Har dan
segera saja bu Har pergi meninggalkan kamarku. Tidak lama kemudian bu Har mencul
kembali dan dikedua tangannya telah membawa alat kerokan dan segelas air minum
serta obat tolak angin dan sambil meletakkan barang bawaannya di meja, bu Har
mengatakan.. "paaakk…. lebih baik kaosnya dibuka saja…," katanya dan pak Har
yang masih menemaniku di kamar terus menimpalinya…. "betuuul.. paaaak…., ooooh…
iyaaa.. buuuu," kata Pak Har pada istrinya….. "saya tinggal dulu ya sebentar ke
kantor KUA untuk menyelesaikan administrasi nya buat besok dan mungkin ke
beberapa teman yang undangannya belum kita berikan." "Jangan.. lama2 lho..
paaaak…. masih banyak yang belum beres.. lhoo..," sahut bu Har sambil keluar
pintu kamarku menghantar suaminya pergi. Tidak lama kemudian bu Har muncul
kembali sambil menutup pintu kamar…. "lhoooo… maaas… kok kaosnya belum
dibukaaaa…..?" katanya ketika melihatku masih tiduran dan belum membuka kaosku,
"…… isiiiiiin ….. mbaaaak," sahutku sambil duduk dipinggir tempat tidur. "Wong
wis podo tuwek e kok….. pake isin segala…. wis to… bukaen kaose….," kata bu Har
dengan logat jawa timurnya. Tanpa disuruh kedua kalinya, segera kubuka kaos yang
kupakai dan terus duduk membelakanginya sambil menunggu kedatangannya dari
menutup pintu kamar. Sesampainya dia dibelakangku dan duduk menghadap punggungku
tiba2 saja bu Har mencubit pinggangku kuat2 sambil berkata… "maaaas….. kowe wih
tuo… kok kurang ajar… tenan… siiiih…..," karena cubitannya yang agak kuat dan
tanpa kuketahui menjadikanku kaget dan berteriak….. "aduuuuh……" sambil kuputar
badanku sehingga kami sudah duduk berhadapan dan kuambil barang2 kecil
ditangannya serta kutaruh diatas kasur serta kupegang kedua bahunya seraya
kukatakan….. "mbaaaaaak…… kowe sing marai aku dadi kurang ajar…. lha.. wong
kowe….. sing membuatku jadi kesengsem….." dan kemudian kupeluk rapat rapat
sehingga terasa tetek nya yang tidak besar itu mengganjal didadaku serta kucium
bibirnya dan bu Har pun memelukku serta mengusap usapkan kedua tangannya di
punggungku yang sudah telanjang. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan terasa
di sedot sedotnya dengan keras dan nafas kami berduapun sudah semakin terdengar
keras.
Sambil kuangkat badannya sedikit agar bagian roknya yang diduduki terbebas, lalu
kuangkat rok terusannya keatas dan kususupkan tangan kananku kedalam serta
kupegang teteknya dari luar Bhnya dan terasa sekali teteknya begitu empuk dan
diantara ciuman kudengar bu Har berkata…. "ssssshhhh….. maaaaas…… ojo…
nakaaaaal….. too…" sambil tangan kanannya menggerayangi kontokku dari luar
celana yang kupakai dan langsung saja kulepas ciumanku dan kuangkat roknya
keatas dan kupelas melalui kepalanya dan yang kudengar dari mulutnya hanyalah
suara sedikit manja… "maaaaaas ….. ojo.. nakaaaaal… toooooo," tetapi tanpa ada
penolakan sama sekali, malahan membantuku melepas roknya dengan mengangkat kedua
tangannya keatas dan setelah roknya terlepas, kulihat badan bu Mar yang begitu
mulus mengenakan Bh hitam yang tipis tanpa ada busa yang mengganjalnya dan
Cd.nya juga berwarna hitam. Tanpa basa basi, langsung saja bu Har kurangkul dan
kurobah posisinya serta kuterlentangkan diatas tempat tidur dan bu Har hanya
protes "…maaaaas…… apa apaan…. siiiiih….. katanya mau di kerokin…. kok jadi
beginiiiii……" dan sambil mencari kaitan Bh dibelakang tubuhnya, kujawab saja
"sekenanya…. mbaaaak….. aku sudah sembuh…. masuh anginnya… sudah hilang
sendiri….."
Setelah kaitan Bhnya terlepas, langsung saja bh nya kubuka dan kujilat teteknya
serta kusedot sedot puting susunya yang hitam dan besar dan kurasakan bu Har
mencoba memasukkan tangan kanannya kedalam celanaku mencari cari kontolku tetapi
karena celanaku agak sempit sehingga bu Har kesulitan memasukkan tangannya dan
langsung saja dia berkata.. "maaaaas…… buka en celanamu…… aku yoo.. kepingin..
nyekel duwek mu" dan tanpa melepas puting teteknya yang masih kusedot, kulepas
celana dan celana dalamku sekaligus, sehingga ku sekarang sudah telanjang bulat
dan kontolku yang setengah berdiri itu langsung saja dipegangnya dan segera saja
dia berkomentar… "maaaas….. kok masih…. lembek……?" "Coba saja di isap…… pasti
sebentar saja… sudah tegang….. mau…?" tanyaku sambil kupandangi wajahnya dan
kulihat bu Har hanya mengangguk sedikit tanpa jawaban. Segera saja kulepas
isapan mulutku di teteknya dan bangun serta duduk didekat kepalanya sambil
sedikit kumiringkan badannya kearahku dan dengan tidak sabaran langsung saja
batang kontolku yang masih setengah berdiri dipegangnya dan kepalanya di jilat
jilatnya sebentar dan langsung dimasukkan kedalam mulutnya. Sambil memutar
badannya setengah tengkurap, bu Har segera saja memaju mundurkan kepalanya
sehingga kontolku keluar masuk terasa enak sekali sehingga tanpa terasa aku jadi
mendesah "..aaaaaah……. ooooh… mbaaaak…. teruuuus…. ooooh….. enaaaaknyaa…
mbaaak.. oooohh" sambil kuusap usap rambut dikepalanya dan sesekali kujambak dan
baru sebentar saja bu Har menghisap kontolku, terasa kontolku sudah tegang
sekali. Tiba2 saja kontolku dikeluarkan dari mulutnya dan langsung saja
kukatakan… "mbaaaak…. isap… lagiiiiii… dooong," tetapi kudengar bu Har
berkata….. "maaaas….. tolong… punyaaa… saya… jugaa." Aku langsung mengerti apa
yang dimaui bu Har dan langsung saja aku merubah posisi dan kujatuhkan diriku
tiduran kedekat kaki bu Har dan kutarik celana dalamnya turun serta kulepas dari
badannya. Tiba2 saja bu Har bergerak dan berganti posisi tidur diatas badanku
sehingga memeknya tepat berada di mulutku dan tercium bau memek yang sangat
khas, maka tanpa bersusah payah kusibak bulu jembutnya yang menutupi bibir
memeknya dan setelah itu kubuka bibir memeknya dengan kedua jari tanganku dan
kujulurkan lidahku menusuk kedalam memeknya yang sudah basah oleh cairannya dan
terasa asin. Ketika ujung lidahku menyodok lubang vaginanya, langsung saja bu
Har menekan pantatnya ke wajahku sehingga terasa sulit bernafas dan terasa
kontolku sedang di kocok2nya dengan jari tangannya. Ketika lidahku menjelajahi
seluruh bagian memeknya dan bibir memeknya tetap kupegangi, bu Har lalu menaik
turunkan pantatnya dengan cepat dan mungkin karena merasa keenakan dijilatin
memeknya, terdengar desahannya yang agak keras…. "oooooh… maaaaas…. oooohh….
aaaaaahh….. teruuuus….. uuuuuhh…. maaaas… aduuuuh…. enaaaak…. maaaas… oooh….."
dan sesekali itilnya yang sedikit menonjol itu dan sudah mulai mengeras, kuhisap
hisap dengan mulutku sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutnya….
"ooooooh…. ituuuu.. maaaaas…. enaaaaaak….. uuuuuh…… ooooh … maaaaaas" dan tiba2
saja pegangan dikontolku dilepaskannya dan bu Har menjatuhkan dirinya dari atas
tubuhku dan tidur terlentang sambil memanggilku… "maaaas….. maaaaas… siniiiii….
saya sudah… nggak tahaaaaan…. ayooo….. sini… maaaas." Aku segera saja bangun dan
membalik badanku serta kunaiki tubuh bu Har dan dia ketika tubuhku sudah berada
di atasnya, dia membuka kakinya lebar lebar dan kutempatkan kakiku diantara
kedua kakinya. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang kontolku dia
berkata…. "maaaaas….. cepat.. doooong….. masukin….. saya sudah.. nggaaak
tahaaaaan…."
"Tunggu…. sayaaaang……, biar aku saja yang masukin sendiri….," kataku sambil
kupindahkan keatas, tangannya yang tadi mencoba memegang kontolku tetapi rupanya
bu Har sudah tidak sabaran lalu kembali dia berkata…. "maaaaas….. ayooooo…
doooong… cepetaaaan….. dimasukiiiiiin… punyamu ituuuuuu….." dan dengan hati2
kupegang kontolku dan kugesek gesekkan di belahan bibir memeknya beberapa kali
dan kemudian kutekan kedalam serta…… bleeeeeeeeees….. terasa dengan mudahnya
kontolku masuk kedalam lubang veginanya dan seperti terkaget kudengar bu Har
berteriak kecil bersamaan dengan kontolku masuk kelobangnya….. "aduuuuuuh……
maaaaaas," sambil mendekapku erat2.
"Sakit……. sayaaaang…..," tanyaku dan bu Har kulihat hanya menggelengkan
kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi disekitar telingaku kudengar dia malah
berbisik…… "enaaak…..maaaas…."
Kuciumi wajahnya dan sesekali ku hisak bibirnya sambil kumulai menggerakkan
pantatku naik turun pelan2, tetapi tiba2 saja punggungku dicengkeramnya agak
keras seraya berkata… "maaaaas…… coba diamkan dulu pantatmu ituuu….." dan aku
nggak mengerti apa maunya tetapi tanpa banyak pertanyaan kuturuti saja
permintaannya. Eeehhh….. nggak tahu nya, bu Har sedang mempermainkan otot otot
vaginanya, sehingga pelan2 terasa kontolku seperti di pijat pijat serta tersedot
sedot dan jepitan serta sedotannya semakin lama semakin kencang sehingga
kontolku terasa begitu enak dan tanpa terasa aku menjadi terlena keenakan……
"oooooohh… sssssshh….. mbaaaaak……. enaknyaaaaaa….. oooooh…. aaaakkrrrrsssss….
oooooh….. teruuuuus… mbaaaaaak… aduuuuuh… enaaaaak" dan aku sudah tidak dapat
tinggal diam saja, langsung pantatku naik turun sehingga kontolku keluar masuk
lobang veginanya serta terdengar bunyi… crreeeettt…… crrreeeet….. creeeeett….
secara beraturan sesuai dengan gerakan kontolku keluar masuh vaginanya yang
sudah sangat basah dan becek. "Maaaas…… cabut dulu punyamu itu….. biar aku lap
dulu…. punyaku sebentar….," kata bu Har setelah mungkin mendengar bunyi itu,
"biar… aja…. mbaaaaak….. enak begini… kooook," sahutku sambil meneruskan gerakan
kontolku naik turun semakin cepat dan bu Har kurasa tidak memperhatikan
jawabanku karena sewaktu aku menjawab pertanyaannya, kudengar dia sudah
mengeluarkan desahannya….. "oooooooh…… ssssssshhh…… aaaaaaaakkkkkk….. aduuuuuh…
maaaaas…. teruuuuuskaaaan….. teruuuus… maaaaas…. oooooh…..," sambil mempercepat
goyangan pinggulnya serta kedua tangannya yang dipunggungku selalu menekan nekan
disertai sesekali menyempitkan lobang vaginanya sehingga terasa kontolku
terjepit jepit dan "ooooh….. mbaaaaak….. ssssssshhhh….. ooooohhh…. enaaaaak..
mbaaaaak….. akuuuu… wis.. kate… metuuuu… mbaaaak….," desahanku yang sudah tidak
kuat lagi menahan keluarnya airmaniku….. "Maaaaas….. ayoooooo…. maaaas…
aduuuuuh….. oooooh…… akuuu… jugaaa…… ayooooo… sekaraaaaaaang…….
aaaaaaaakkkkrrrrrr.. ooooooooh…… maaaaaaaaaas" dan kulepas air maniku semuanya
kedalam memeknya sambil kutekan kontolku kuat2 dan bu Har pun mendekapku dengan
sekuat tenaganya.
Aku terkapar diatas badan bu Har dengan nafas ngos ngosan demikian juga kudengar
bunyi nafasnya yang sangat cepat seraya menciumi wajahku. Setelah nafas kami
mulai mereda, lalu kukatakan… "mbaaaaak…. wis yooooo….. tak cabut.." dan sebelum
aku menhabiskan perkataanku, dicengkeramnya punggungku dengan kedua tangannya
seraya mengatakan…… "jangaaan… duluuu.. maaaaas…… aku masih ingin…. punyamu
ngganjel didalam……" dan setelah diam sebentar lalu katanya lagi…. "maaaas…… aku
sudah lama… nggak begini…… bapak sudah nggak mau lagi….. padahal aku masih
kepingin…."
Para pembaca sekalian, itulah kisahku dan setelah kami masih sesekali
melakukannya yaitu ketika bu Har datang ke Jakarta dengan alasan kangen dengan
anak perempuannya yang kawin dengan anakku. Biasanya bu Har menelponku dikantor
apabila akan datang ke Jakarta dan kujemput dia di Gambir dan langsung pergi ke
salah satu Hotel, sebelum dia menuju rumah anaknya.. eh… anakku juga.
TAMAT

Post a Comment