Monday, 8 June 2009

ARI, SUAMI TEMANKU

(cerita ini adalah rekaan, jadi jangan kirim email menanyakan
kebenarannya ya! Mohon maaf atas kesamaan nama dan peristiwa)

Namaku Ratih, asalku dari Surabaya. Umurku 26 tahun dan udah lulus
dari sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Selama kuliah aku
punya teman kuliah yang bernama Iva. Iva adalah teman dekatku, dia
berasal dari Medan. Kami seumur, tinggi kami hampir sama, bahkan
potongan rambut kami sama, cuman Iva pakai kacamata aku tidak. Kadang-
kadang teman-teman menyebut kami sebagai saudara kembar. Kami juga
lulus pada saat yang bersamaan. Satu-satunya yang berbeda dari kami
ialah selama setahun kuliah terakhir, Iva sudah bertunangan dengan
Ari, seorang kakak kelasku sedangkan aku masih berpacaran dengan Andy,
(lagi-lagi) kakak kelas.
Salah satu persamaan lainnya ialah bahwa pas lulus itu kami sama-sama
udah nggak perawan lagi. Kami saling terbuka dalam hal ini, artinya
kami saling bercerita mulai dari hal-hal yang mendalam misalnya
tentang perasaan, kegelisahan dan hal-hal lain tentang kami dan pacar-
pacar kami. Atau terkadang tentang hal-hal yang 'nakal' misalnya
bagian-bagian erotis atau ukuran vital dari pacar-pacar kami, sehingga
darinya aku tahu bahwa milik Ari lebih panjang 3 cm-an dibandingkan
milik Andy. Dengan lugas kadang-kadang Iva bercerita bahwa dia nggak
pernah ngerasain seluruh panjang batang milik Ari, diceritakannya pula
bahwa Ari nggak pernah bisa lebih lama dari 3 menit setiap kali
begituan dengannya. Meski begitu dia selalu merasa puas.
Kadang-kadang aku merasa iri juga dengan 'anugerah' yang didapat Iva.
Meskipun sebenarnya 15 cm-an milik Andy pun sebenarnya sudah cukup
panjang, tapi membayangkan 18 cm milik Ari terkadang cukup membuatku
'gundah'. Belum lagi aku mengingat-ingat tak pernah Andy sanggup
bertahan lebih lama dari hitungan menit, mungkin karena aku dan Andy
selalu melakukan foreplay-nya lama dan menggebu-gebu (kadang-kadang
malah aku atau Andy udah lebih dulu orgasme pas tahap ini), jadi
ketika pas penetrasi udah tinggal keluarnya saja. Meskipun kadang-
kadang cukup memuaskan tetapi rasanya masih saja ada yang kurang.
Belum lagi secara fisik, Ari lebih baik dari Andy dari penilaian
obyektifku. Semua perasaan itu tersimpan didiriku sekian lama selama
aku masih sering berhubungan dengan Iva, yang artinya juga sering
ketemu sama Ari.
Tepat sebulan setelah lulus, Iva menikah dengan Ari. Terus mereka
berdua pindah ke Medan, sedangkan aku sendiri bekerja disebuah
perusahaan multinasional di Yogyakarta. Beberapa lama kami sering
berkirim kabar baik lewat email maupun telepon. Beberapa dari kabar
itu diantaranya mirip-mirip cerita di CCS ini. Iva sering menuliskan
apa saja sudah yang 'dilakukannya' dalam kehidupan suami istrinya.
Diceritakannya betapa sering mereka berdua berhubungan intim, sebulan
pertama jika dirata-rata bisa lebih dari 1 kali sehari. Dengan nada
cekikikan sering juga diceritakannya bahwa memang milik Ari terlalu
panjang untuk kedalamannya, bahwa semakin lama Ari semakin tahan lama
dalam melakukannya yang oleh karenanya mereka sering terlambat bangun
pagi karena semalaman melakukannya sampai dini hari. Juga dengan nada
menggoda, diceritakannya betapa hangat semprotan sperma didalam
vagina. Cerita yang terakhir ini sungguh merangsangku, karena meskipun
telah melakukannya, aku belum pernah merasakan hal itu. Selalu Andy
mengeluarkan spermanya diluar atau dia memakai kondom. Diperut atau
paha memang sering kurasakan hangatnya cairan itu, tetapi didalam
vagina memang belum. Singkat kata semakin banyak yang diceritakannya
semakin membuatku kepingin segera menikah. Masalahnya Andy masih ingin
menyelesaikan studi S2-nya yang mungkin kurang dari setahun lagi
selesai.
Beberapa bulan kemudian Iva mengabarkan bahwa dia sudah hamil sekian
bulan. Semakin bertambah umur kandungannya semakin sedikit cerita-
cerita erotisnya. Ketika kandungan sudah beranjak lebih dari 7 bulan,
dia bercerita bahwa mereka sudah tidak pernah berhubungan seks lagi.
Kadang-kadang dia bercerita bahwa sesekali dia melakukan masturbasi
(tepatnya meng-onani-kan) Ari, karena meskipun secara klinis mereka
masih boleh berhubungan seks tapi mereka khawatir. Jadi Ari terpaksa
berpuasa. Sekian bulan kemudian lahirlah putra pertamanya, Iva
mengabarkan kepadaku berita gembira itu. Kebetulan sekali perusahaanku
mempunyai kebijaksanaan adanya liburan akhir tahun selama dua minggu
lebih. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke Medan untuk
menjenguknya. Andy terpaksa tidak bisa ikut karena dia sedang hangat-
hangatnya menyelesaikan tesisnya. Jadilah aku pergi sendirian ke Medan
dan segera naik taksi menuju rumahnya.
Rumah Iva adalah sebuah rumah yang besar untuk ukuran sebuah keluarga
kecil. Rumah itu adalah hadiah dari orang tua Iva yang memang kaya
raya. Letaknya agak keluar kota dan berada didekat area persawahan
dengan masih beberapa rumah saja yang ada disekitarnya. Ketika aku
datang, dirumahnya penuh dengan keluarga-keluarganya yang berdatangan
menjenguknya. Ari sedang menyalami semua orang ketika aku datang.
"Ratih, apa kabar? Sudah ditunggu-tunggu tuh!" dia memelukku dengan
hangat. Kemudian dia mengenalkanku kepada keluarga-keluarga yang
datang. Aku pun menyalami mereka satu persatu. Mereka ramah-ramah
sekali. Ari bercerita bahwa aku adalah saudara kembarnya Iva selama
kuliah. Keluarganya saling tersenyum dan berkomentar sana sini.
Sekian saat berbasa basi, Ari segera mengantarku masuk rumah dan
langsung menuju kamar Iva. Tampak Iva lebih gemuk dan disampingnya
tampak bayi lucu itu.
"Iva sayang, apa kabar?" aku mencium keningnya dan memeluknya hangat.
"Udah siap-siap begituan lagi ya?" aku berbisik ditelinganya yang
dijawabnya dengan cubitan kecil dilenganku.
"Ssttt... harus disempitin dulu nih!" dia menjawab dengan berbisik
pula sambil menggerakkan bola matanya kebawah. Aku tertawa.
Singkat kata, hari itu kami isi dengan berbasa basi dengan keluarga.
Aku akhirnya menginap dirumahnya itu karena semua keluarga menyarankan
begitu. Iva dan Ari pun tak keberatan. Aku diberi kamar yang besar
diujung ruangan tengahnya. Rumahnya mempunyai 6 kamar besar dengan
kamar mandi sendiri dan baru satu saja yang telah diisi olehnya dan
Ari. Hari itu sampai malam kami isi dengan ngobrol di kamarnya
menemani sang bayi yang baru bisa tidur. Sementara Ari menyelesaikan
tugas-tugasnya sebagai dosen diruang kerja. Akhirnya aku
menyarankannya istirahat.
"Udah kamu istirahat dulu deh Va!"
"He eh deh, lelah sekali hari ini aku! Kamu masih suka melek sampai
malam?"
"Iya nih!"
"Itu ada banyak film di rak! Masih baru lho!"
"OK deh! Sekali lagi selamat ya!" aku cium keningnya. Aku keluar kamar
dan menutupnya perlahan. Ari bercelana pendek dan berkaos oblong baru
saja keluar dari ruang kerjanya.
"Mau tidur?"
"Sebenarnya aku udah lelah, tapi mataku nggak bisa terpejam sebelum
jam 2 malam nih! Katanya punya banyak film?"
"Itu dirak, buka aja!"
"OK!"
Ari masuk kamar Iva. Aku pilih satu film, judulnya aku lupa, terus aku
putar. Beberapa saat kemudian Ari keluar kamar dan tersenyum.
"Masih dengan kebiasaan lama? Melek sampai malam!"
"He eh nih!"
"Gimana kabarnya Andy?"
"Dua bulan lagi selesai tesisnya! Terus kami mau enikah, kalian datang
ya!"
"Oh pasti! Mau minum, aku buatin apa?"
"Apa aja deh!"
Sebentar kemudian Ari keluar dengan dua botol softdrink ditangannya.
"Pembantu pada kelelahan nih! Jadi ini saja ya!"
"Makasih!" aku ambil satu dan meminumnya langsung. Rasanya segar
sekali, rasanya Medan panas sekali.
"Kalo ada perlu aku lagi ngerjain proyek nih diruang kerja" ketika Ari
beranjak sekilas aku melihat tatapan yang belum pernah aku lihat
darinya. Sekilas saja.
"OK, makasih!"
Tak berapa lama aku melihat film itu, mataku ternyata nggak seperti
biasa, tiba-tiba terasa berat sekali. Aku segera matikan player itu,
berjalan kedepan keruang kerja Ari.
"Don, aku tidur dulu deh! Udah tak matiin semua!"
"OK deh, istirahat dulu ya!"
Aku segera masuk kamar, menutup pintu, segera ganti baju dengan kaos
tanpa bra dan celana pendek saja dan langsung ambruk diatas ranjang.
Aku masih sempat mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur
yang remang-remang. Aku langsung terlelap, saat itu mungkin sekitar
pukul 1-an dinihari.

------------

Tak terasa berapa lama aku tidur, ketika aku merasakan sesuatu
menindihku. Aku terbangun dan masih belum sadar ada apa, ketika
seseorang menindihku dengan kuat. Nafasnya terasa hangat memburu
diwajahku. Ketika sepenuhnya sadar aku tahu bahwa Ari sedang diatas
tubuhku dan sedang menggeranyangiku dengan ganas, mengelus-elus pahaku
dan mencoba mencium bibirku. Beberapa lama aku tidak tahu harus
bagaimana. Jika aku berteriak, aku kasihan sama Iva, jika sampai dia
tahu. Selain itu sosok Ari telah aku kenal dekat sehingga aku tak
perlu menjerit untuk membuatnya tidak melakukan itu.
"Ar, kamu apa-apaan?" kataku sambil mencoba mendorongnya dari tubuhku.
"Bantulah aku Rat! Telah lama sekali!" sambil berkata begitu dia terus
menggeranyangi tubuhku. Tangannya mendarat dengan mantap diatas
payudaraku dan meremas-remasnya. Jika saja aku tadi masih memakai bra-
ku mungkin rasanya akan lain. Tapi kali itu hanya kain kaos yang tipis
saja yang memisahkannya dengan tangannya. Selain itu samar-samar aku
rasakan sesuatu mengeras menimpa pahaku. Aku tidak asing lagi dengan
benda itu. penisnya telah tegang penuh.
"Ari.....!" dia mencoba menciumku. Entah antara ingin mengatakan
sesuatu atau ingin menghindar aku malah menempatkan bibirku tepat
dibibirnya. Yang terjadi kemudian aku malah membalas lumatannya yang
ganas sekali. Beberapa lama itu dilakukannya, cukup untuk membuat
puting susuku mengeras, yang aku yakin dirasakannya didadanya.
"Kalo Iva tahu gimana dong?"
"Ayolah sebentar saja tak akan membuatnya tahu!" Entah untuk mencari
pembenaran atas keinginan terpendamku atau mencoba untuk terlihat
tidak terlalu permisif akhirnya yang keluar dari mulutku adalah:
"Ar.... Aku akan melakukannya untuk Iva!" Seperti bendungan jebol, Ari
langsung kembali melumatku dengan ganas. Aku pun tampaknya memang
telah terhanyut oleh perbuatannya, sehingga langsung membalas lumatan
bibirnya. Tampaknya dalam hal beginian Andy lebih jagoan, dia bisa
membuatku 'basah kuyup' hanya dengan ciumannya. Sedangkan Ari tampak
tersengat ketika aku langsung membalas lumatan bibirnya dengan ganas.
Beberapa lama kami melakukan itu lumatan-lumatan itu. Kemudian Ari
bangkit dari atas tubuhku dan berlutut diantara pahaku. Dia kemudian
menarik kaosku keatas tanpa melepasnya dari tubuhku sehingga
payudaraku terbuka, terasa dingin oleh AC. Beberapa saat kemudian aku
merasakan jemarinya kembali meremas-remasnya perlahan, bukan itu saja
kemudian aku merasakan bibirnya mendarat dengan mulus memilin-milin
putting susuku yang aku rasakan semakin mengeras. Tapi sebenarnya
sebagian kecil tubuhku masih menolak perbuatannya itu, mengingat
kedekatanku dengan Iva. Meski begitu sebagian besar lainnya tak bisa
menolak rangsangan-rangsangan itu. Beberapa saat Ari bermain-main
dengan puting dan gundukan payudaraku. Kemudian dia bangkit dan
menarik lepas celana pendek dan celana dalamku.
Dengan segera aku merasakan tangannya membuka kedua pahaku dan
sebentar kemudian kau rasakan jemarinya menyapu permukaan vaginaku.
Ujung-ujung jemarinya mengelus-elus klitorisku dengan cepat, cukup
cepat untuk membuat rangsangan bagiku. Meski begitu tetap saja
gelitikannya semakin merangsangku. Tak berapa lama dia kembali
berhenti. Sekali lagi dalam hal per-foreplay-an ini Andy masih lebih
baik dibandingkan Ari.
Dalam keremangan aku melihatnya berdiri dan menarik celana pendek dan
kaos oblongnya sehingga Ari akhirnya telanjang bulat. Justru disinilah
nafsuku langsung naik dengan sangat cepat demi menyaksikan siluet
tubuhnya didalam keremangan lampu tidur di kamar itu. Sesuatu ditengah
tubuhnya langsung membakarku, penis yang sedang tegang dan tampak
sedikit melengkung keatas. Bentuknya yang gemuk, panjang dan berkepala
bonggol itu langsung menggelitikkan rasa terangsang yang amat sangat
mengalir dari mata dengan cepat langsung menggetarkan selangkanganku.
Aku segera saja merasa gelisah dan tak sabar.
"Ar.... Kesini deh!"
Dengan bertelanjang bulat, Ari berjalan mendekat kepadaku dan naik
ranjang, langsung berlutut disamping tubuhku. Penisnya yang tegak itu
tampak jauh lebih besar jika dilihat dari baliknya.
"Ada apa Rat?"
"Kadang-kadang aku punya impian yang bahkan Iva pun tak tahu apa itu?"
"Apa coba?"
"Jangan diketawain ya. Iva sering bercerita tentang ini! Dan kadang-
kadang timbul keinginan untuk sekedar memandangnya" sambil berkata
begitu aku raih penisnya itu dan aku genggam erat batang dan sebagian
kepalanya sehingga seperti kalo lagi memegang persneling mobil. Ari
tampak sedikit tergial ketika genggamanku mendarat mulus dibatang
penisnya tanpa diduga-duga olehnya. Tubuhnya seperti terdorong
kebelakang sedikit sehingga semakin mengangkat posisi penisnya dari
posisi berlututnya. Beberapa saat aku merasakan kerasnya batang
penisnya itu. Pantas sekali kalo Iva begitu membangga-banggakannya.
Dan emang selisih tiga centi terasa sekali secara visual.
"Nih udah, kamu boleh apain aja deh! Oh ya Iva udah cerita apa saja ke
kamu?"
"Banyak pokoknya!"
"Kalo sama punya Andy?"
"No comment deh!" nada bicaraku agak mendesah. Ari tersenyum dan
bangkit dari sampingku terus membuka pahaku dan mulai mengambil
posisi. Ketika bangkit aku melihat pinggulnya seperti bertangkai oleh
cuatan batang penisnya itu. Dia memandangku sebentar, aku balas dengan
pandangan yang sama.
"Pelan-pelan ya Ar!"
"Lho, udah pernah khan?"
"Iya, tapi.........!"
"Nggak segini ya?" Dia kembali tersenyum. Aku cuma tersenyum kecut
demi ketahuan kalo punya Andy nggak sebesar punyanya. Perlahan-lahan
Ari mengangkat kedua pahaku dan menyusupkan lututnya yang tertekuk
dibawahnya sehingga ketika dia meletakkan pahaku kembali keduanya
menumpang diatas paha atasnya yang penuh rambut. Dengan posisi seperti
itu selangkangannya langsung berhadapan dengan selangkanganku yang
agak mendongak keatas karena posisi pahaku. Aku hanya bisa menunggu
seperti apakah rasanya. Aku merasakan perlahan-lahan Ari membuka
gerumbulan jembutku yang rimbun dibawah sana dan beberapa saat
kemudian sesuatu yang tumpul menggesek-gesek daging diantara
gerumbulan itu dengan gerakan keatas dan kebawah menyapu seluruh
permukaannya, dari klitoris sampai kelubang vaginaku. Rasa
terangsangku segera memuncak kembali merasakan sensasi baru itu.
"Ayolah Ar, keburu bangun!"
"Ini baru jam 3.15"
"Iya siapa tahu?"
Perlahan-lahan aku merasakan gesekan kepala penisnya tadi berhenti
diarea dekat lubangku pas pada posisi membuka bibir-bibir labiaku
sehingga langsung berhadapan dengan lubang dibawahnya itu. Sesaat
kemudian sesuatu yang besar dan tumpul serta hangat menyodoknya
perlahan-lahan. Tanpa hambatan yang terlalu kuat, kepalanya langsung
masuk diikuti batangnya perlahan-lahan. Aku segera merasakan nikmat
akibat gesekan urat-uratnya itu didinding lubang vaginaku. Sampai
tahap ini sebenarnya rasanya nggak beda jauh dari punya Andy, yang
walaupun nggak sepanjang punya Ari ini tapi cukup gemuk. Tapi semakin
lama semakin lama tubuhku segera bereaksi lain ketika batang itu mulai
masuk semakin dalam. Dan ketika semuanya masuk kedalam, aku segera
merasakan rasa nikmat yang amat sangat ketika ujung kepala batangnya
itu mentok di dinding bagian dalam vaginaku. Aku segera mencari
lengannya dan mencengkeramnya erat. Ari berhenti sesaat dan menarik
nafas panjang sekali.
"Rat.......! Ini yang kucari!" Ari berbisik perlahan sekali tapi cukup
terdengar olehku. Aku tahu apa yang dimaksudnya. Sesuatu yang sanggup
menelan semua panjang batangnya itu! Ari nggak segera bergerak tapi
seperti menggeliat dalam tancapan penuh batang penisnya kedalam
vaginaku itu. Tampaknya reaksi dari bagian yang belum pernah tertelan
itu sangat mempengaruhi dirinya. Dia bahkan belum bergerak sampai
sekian puluh detik kedepan, wajahnya tertunduk, kedua tangannya
mencengkeram pinggulku, meraih-raih pantatku dan meremas-remasnya
dengan ganas cenderung kasar. Dengan sedikit nakal, aku mencoba
mengejan, mengkontraksikan otot-otot disekeliling selangkanganku.
Meski terasa penuh oleh masuknya batang penisnya itu aku mulai bisa
melakukan kontraksian itu dengan teratur. Tak terlihat tapi efeknya
luar biasa. Aku merasakan kedua tangannya dengan liar memutar-mutar,
meremas dan mencengkeram bongkahan pantatku, pastinya karena reaksi
dari apa yang aku lakukan pada batangnya itu. Dia segera ambruk diatas
tubuhku dan segera mengambil posisi genjot, kedua tangannya diletakkan
diantara dadaku, salah satunya menyangkutkan paha kananku sehingga
mengangkat selangkanganku keatas sedangkan paha kiriku otomatis
terangkat sendiri. Paha kanannya masih tertekuk sedangkan kaki kirinya
diluruskannya kebawah sehingga mempertegas sudut tusukan penisnya
divaginaku. Dia mulai mencabut penisnya yang beberapa lama tadi masih
tertancap penuh didalam tubuhku dan belum sampai tiga perempat panjang
batangnya keluar, dia langsung menghunjamkannya dengan kuat kebawah
sehingga menekan kuat area ujung rahimku. Kemudian ditariknya lagi dan
ditusukkannya kembali. Mulailah terasa beda pengaruh panjangnya
terhadap kenikmatan yang kurasakan. Hal ini mungkin dikarenakan bidang
gesekan satu arahnya yang panjang dan lebih lama sehingga mengalirkan
kenikmatan yang lebih kuat pula.
"Arrr.....! Jangan kuat-kuat .....!" tapi sebenarnya aku sangat
menikmatinya.
Ari tampaknya tak perduli, dia terus saja bergerak-gerak dengan kuat
dan semakin cepat.
"OOOhhhh..... Rat..... Ratih!!!!" dia terus menggenjot dan tak terasa
begitu cepat 5 menitnya yang pertama terlewati dan dia masih tangguh
saja memompa vaginaku. Benar kata Iva. Sepagi itu tak ada seorang pun
yang bangun dan terjaga, tapi kami berdua malah sedang mencoba mendaki
dengan alasan yang berbeda. Kalau Ari karena tak tahan menunggu Iva
'berfungsi' kembali sedangkan aku karena ingin saja.
Sekitar sekian saat setelah 5 menitnya yang ketiga, aku jebol. Gesekan
urat-urat penisnya itu meledakkan tubuhku dengan kuat sehingga
membuatku menjepitkan pahaku ketubuhnya. Bukan itu saja senam yang
teratur yang aku ikuti ternyata berguna pada saat itu. Pas puncaknya
aku tahan kontraksi divaginaku dan sekuat tenaga aku pertahankan agar
tidak segera meledak. Sesaat aku merasakan aliran arus balik ditubuhku
tapi nggak lama jebol juga sehingga dibawah genjotan cepatnya aku
merasakan tiba-tiba seperti melayang diangkasa luas tanpa batas.
Tubuhku kaku, kejang, nafasku memburu dan keluar tertahan-tahan
bersamaan dengan keluarnya bunyi-bunyian yang nggak jelas nadanya dari
bibirku.
"Ohhhhh...eeehhh....hmmmm... Ar.....yang kuat!!!" Mungkin gabungan
antara suara dari bibirku dan mungkin cengkeraman-cengkeraman kuat
dari dinding-dinding vaginaku, segera membuatnya bergerak cepat kuat
dan sekali. Aku tidak pernah merasakan kekuatan sekuat dan setahan itu
dari Andy. Tubuhku kejang sampai dia menyelesaikan 5 menitnya yang
keempat dan masih terus bergerak mantap. Sampai orgasmeku mereda aku
merasakan gerakannya semakin cepat dan kuat dan belum sampai
pertengahan 5 menitnya yang kelima, Ari pun jebol juga. Posisi kami
selama itu masih belum berubah, tapi pasketika dia mau menyelesaikan
genjotan-genjotan terakhirnya dia menggerakkan tubuhku kekiri sehingga
menggerakkan seluruh tubuhku miring kekiri dan paha kananku tepat
menumpang diatas dadanya sedangkan paha kiriku berada diantara kedua
pahanya. Ketika posisinya pas dia langsung bergerak cepat. Dalam
posisi itu ternyata rasanya lain karena yang menggesek dinding lubang
vaginaku pun dinding yang lain dari penisnya. Tapi orgasmeku yang
pertama rasanya terlalu kuat untuk diulangi dalam waktu sedekat itu,
sehingga meskipun rasanya memuncak lagi tapi ketika aku merasakan
semprotan-semprotan panas seperti yang diceritakan Iva kepadaku itu
aku belum bisa meraih orgasmeku yang kedua.
"HOOOOhhh...HOOOOOH.....HOOOOO....Rat....Ratih!!!" Ari bergerak-gerak
tak teratur dan hentakan-hentakannya ketika orgasme itu tampak liar
dan ganas tapi terasa nikmat sekali bagiku. Aku memegangi kedua
lengannya yang berkeringat sampai dia menyelesaikan orgasme itu.
sesekali aku mengusap wajahnya dengan lembut. Beberapa lama tubuhku
kaku karena posisi kaki-kakiku itu, sampai akhirnya dia ambruk
disamping kiriku. Penisnya tercabut dengan cepat dan semuanya itu
membuat posisi kembaliku agak terasa linu, terutama dipaha bagian
dalamku.
Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku terlentang sedangkan Ari
tengkurap disampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar
bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari
panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Penisnya
meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak
menggunduk dicelana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4
pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara
kearah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat
melihatku sejenak dan tersenyum.
Tinggallah aku sendiri dikamarku dan aku mencari-cari celana pendekku
dan segera mengenakannya. Aku terus menarik kaosku kebawah sehingga
menutupi payudaraku yang pasti penuh pagutan-pagutan merah. Dan dengan
sisa-sisa tenaga mencoba merapikan sprei yang terasa lembab
ditanganku. Mungkin karena lelahnya aku kembali terlelap dan terbangun
hampir jam 10.00-an pagi. Singkat kata hari itu aku selesaikan segala
urusan di Medan. Rasanya tak ada dengan segala hal yang terjadi. Iva
biasa-biasa saja tidak terlihat seperti curiga, bahkan wajah cerianya
tampak sedih ketika pada hari ketiga aku terpaksa harus pamit untuk
pulang. Ari mengantarku kebandara dan sebelum aku naik kepesawat
sempat Ari mengucapkan terima kasih. Aku membalasnya dengan terima
kasih juga sambil tak lupa tersenyum manis penuh arti.
Sampai tiga bulan setelah aku meninggalkan Medan itu, tiba-tiba Iva
mengirimiku email yang menyentakku, isinya begini:

"Rat, sebenarnya aku nggak ingin menyinggung-nyinggung soal
ini tapi akhirnya agar kamu tahu terpaksa deh aku ungkapin.
Nggak tahu aku harus ngucapin terima kasih atau malah mencaci
kamu. Kamu tega deh, disaat puncak kebahagianku kamu malah
melakukannya dengan Ari. Aku tahu bukan kamu yang memulai, dan
aku tahu sekali kamu nggak akan mau melakukannya jika tanpa
sesuatu sebab. Sebenarnya aku kasihan juga sama Ari, bayangin
hampir dua bulan terakhir sebelum aku melahirkan, dia nggak
pernah melakukannya, meskipun hanya sekedar masturbasi. Belum
lagi ditambah dua bulan setelah aku melahirkan aku masih belum
bisa melayaninya. Dan aku nggak menyalahkannya jika akhirnya
dia memintamu melakukannya. Dan jika akhirnya kamu terpaksa
melayaninya, aku ucapin terima kasih telah menggantikanku.
Mungkin itu aja deh Rat, yang perlu untuk kamu ketahui. Aku
nggak tahu harus bagaimana tapi udah deh segalanya sudah
terjadi, mohon jangan mengulanginya lagi ya! Please! Aku sudah
omong-omong tentang ini sama Ari dan dia menangis habis-
habisan menyesalinya. OK, udahan dulu ya. Bales ya secepatnya!

Iva

NB: sedikit nakal, kok sekarang Ari jadi ganas gitu sih? Kalo
ini karena kamu makasih ya! Terakhir, how good he is?
Hi..hi..hi Don't worry I'm still your friend."

Berhari-hari setelah itu aku kebingungan mempertimbangkan apa yang
harus aku lakukan terhadap ini, sampai akhirnya aku harus menjawab
juga.

"Iva sayang, hanya maaf yang bisa aku mohonkan kekamu. Aku
nggak ingin membela diri, aku salah dan aku janjikan itu nggak
akan terulang lagi. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk
menebusnya? Katakan saja kepadaku!. Aku nggak punya lagi kata-
kata apapun, jadi sekali lagi maaf ya!"

Ratih

NB: tentang yang ganas-ganas itu aku nggak tahu tanya aja sama
dia, tapi kalo tentang pertanyaan yang kedua, jawabannya
secara jujur ya iya. Mohon maaf sekali lagi!"

Email balasanku itu pagi terkirim, sorenya langsung dibalas dan
isinya:

"Ratih, OK deh. Meskipun agak sakit, kita kubur jauh-jauh
peristiwa itu. Kapan kamu menikah? Kabarin lho! Aku punya ide
(agak liar), supaya setimpal, gimana kalo nanti pas kamu
mengalami saat-saat yang sama kayak aku, boleh dong aku
'mbantuin' Andy? HEE...HEEE...HEEE (gambar tengkorak lagi
ketawa!)

Iva

Nah lo! Akhirnya memang begitu yang terjadi setahun kemudian, jadi
kedudukanku dengan Iva menjadi 1-1.
Post a Comment