Thursday, 12 September 2013

Ranjang yang Ternoda 4

Juli 12, 2007

BAGIAN EMPAT
DALAM CENGKRAMAN PRIA TUA

Oleh Pujangga Binal & Friends

Lidya menguap. Wanita cantik itu membolak-balik halaman tabloid wanita yang sedang dipegangnya dengan bosan. Walaupun sudah berusaha membaca dan konsentrasi, tapi susah sekali memahami apa yang ditulis di tabloid itu karena dia tidak bisa fokus. Benaknya masih dibebani perkosaan yang dilakukan Pak Hasan. Dia sangat trauma dan ketakutan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menceritakan petaka yang menimpanya baik pada suaminya sendiri ataupun pada pihak yang berwajib, dia takut kalau dia membeberkan semuanya, situasinya akan lebih buruk lagi. Semalam suntuk Lidya berusaha tidur tapi tak kunjung bisa memejamkan mata, dia takut sewaktu-waktu Pak Hasan akan datang ke kamar dan menyetubuhinya lagi. Selangkangannya masih terasa sakit setelah mendapatkan perlakuan kasar kemarin.
Dasar panjang umur, pria tua busuk itu tiba-tiba saja muncul dan berdiri di samping Lidya.

“Aku pengen jalan-jalan ke mall, Nduk.”

Lidya meneguk ludah, dia diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Biasanya Pak Hasan akan pergi selama berjam-jam dan Lidya terbebas darinya. Pria tua itu biasanya pergi begitu saja tanpa pamit, entah kenapa hari ini dia pamit pada Lidya. Karena perasaannya masih kacau balau, Lidya diam membisu.

Tidak mendapat tanggapan dari Lidya membuat marah Pak Hasan. Dengan geram Pak Hasan mendekati menantunya yang sedang membaca. Tabloid wanita yang sedang dipegang Lidya disambar Pak Hasan dengan kasar sampai jatuh berserakan di lantai.

“Kamu dengar tidak? Aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke mall!”

Ajakan Pak Hasan pada Lidya itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Ke mall? Apa lagi yang diinginkan kali ini?

“Ke mall?” tanya Lidya sambil merapikan rambutnya yang jatuh ke kening. “Ngapain kita jalan-jalan ke mall? Kebutuhan dapur dan yang lain masih ada. Besok lusa Mas Andi juga sudah pulang… kita tidak perlu…”

Wajah Pak Hasan memerah menandakan kemarahannya makin lama makin memuncak.

Pak Hasan menarik tubuh Lidya dan memeluknya dengan kasar. “Justru karena besok lusa Andi sudah pulang, aku mau menikmati saat-saat terakhir bersamamu, Nduk! Aku tidak ingin menyakitimu lagi, jadi sebaiknya kau turuti semua permintaanku tanpa mengeluh, atau aku akan berubah pikiran! Hari ini kita mulai dengan jalan-jalan ke mall karena aku pengen memamerkan menantuku yang cantik jelita pada orang-orang sekota.”

Pak Hasan mencium bibir Lidya dengan kasar bahkan menggigitnya sampai menantunya itu kesakitan. Akhirnya setelah Lidya meronta-ronta, Pak Hasan melepaskannya. “Aku juga tidak suka kamu bertanya padaku dengan sinis! Lain kali pikir dulu sebelum mengajukan pertanyaan!”

Lidya yang sudah lepas dari pelukan Pak Hasan meringkuk di sofa dan menundukkan kepala, dia sangat ketakutan sampai-sampai tubuhnya bergetar. “Aku minta ma-…”

“Maaf? Sudah seharusnya!” dengan sombong Pak Hasan memalingkan muka dan duduk di sofa. “Ganti pakaianmu, dandan yang cantik! Aku menunggu di sini, jangan lupa bawa uang yang banyak dan kartu kredit. Siapa tahu aku ingin belanja-belanja.”

Lidya melangkah lemas ke kamar atas, entah apa lagi maksud Pak Hasan.

###

Paidi Sutrisno bukanlah orang yang beruntung. Di usianya yang sudah mencapai angka 55, pria tua ini masih hidup berkekurangan. Masa mudanya yang suram membuatnya sering keluar masuk penjara, dia bahkan sangat terkenal sebagai preman pasar dengan sebutan Paidi Tatto, tentunya karena tatto gambar wanita bugil yang menghias sebagian besar punggungnya. Karena kehidupannya yang keras, Paidi diceraikan oleh istrinya dan bekerja sebagai penjaga pintu sarang PSK. Hanya sebentar bekerja di sana, Paidi terlibat perkelahian dengan seorang pelanggan. Hal ini menyebabkan Paidi kembali masuk penjara.

Saat terakhir di penjara, Paidi berkenalan dengan seorang mantan dosen yang berasal dari keluarga baik-baik dan dipenjara entah karena masalah apa. Pria itu memberikan ilmu pengetahuan dan mengajarkan banyak hal pada Paidi. Berkat orang ini pulalah Paidi berani menghapus semua tatto di tubuhnya walaupun akhirnya meninggalkan bekas luka permanen di kulit punggungnya. Punggung Paidi yang tadinya bergambar seorang wanita cantik berubah menjadi kulit carut marut. Kemahiran Paidi berlipat ganda berkat pengetahuan yang diberikan oleh pria itu.

Setelah keluar bui untuk yang terakhir kalinya di usia 45, Paidi ternyata tak kunjung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Entah karena sejarahnya yang buruk atau karena pengaruh krisis ekonomi. Di jaman seperti sekarang ini, sangat susah mencari pekerjaan yang halal dengan mudah. Apalagi Paidi tidak memiliki modal besar dan wajahpun tidak menunjang, codet besar bekas luka menghias wajahnya sehingga banyak perusahaan menolak memperkerjakannya.

Akhirnya, Paidi mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Paidi memperoleh modal kecil dari temannya dan berjualan bakso keliling. Paidi Tatto kini berubah menjadi Paidi tukang bakso.

Tubuh Paidi yang dulu gagah dan tegap kini kurus kering dan hitam legam terbakar matahari. Wajahnya yang dulu bersih kini menjadi kurus dan kasar, kulitnya tipis dan tulangnya terlihat menonjol di seluruh badan. Paidi sadar masa-masa keemasannya sebagai preman sudah sirna dan kini dia berniat melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk membalas kebaikan sahabat yang telah memberinya pengetahuan dan modal berjualan bakso. Demi mencari nasi untuk sekedar mengisi perut, Paidi menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh. Tapi, sesungguhnya tidak semudah itu Paidi berubah menjadi orang baik, dia masih seorang pria oportunis yang menghalalkan segala cara, dalam hatinya dia masih seorang penjahat.

Hidup Paidi akan segera berubah.

Beberapa malam yang lalu, Paidi baru saja pulang dari nongkrong di warung kopi yang buka sampai jam dua pagi. Paidi sengaja lewat jalan komplek yang sepi karena ada jalan tikus yang bisa lebih cepat sampai ke pasar di seberang komplek. Paidi memang biasa begadang, jam dua minum kopi, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk bakso, dan paginya keliling lagi. Pasar di seberang komplek memang sudah buka sejak jam empat pagi dan biasanya pembeli yang datang jam segitu akan mendapatkan potongan harga yang lumayan langsung dari distributor, apalagi barangnya masih segar dan fresh.

Malam itu, entah kenapa Paidi memilih untuk beristirahat sebentar di pojok pengkolan jalan di dekat pos kamling. Kebetulan tempat Paidi beristirahat agak pojok dan terlindung oleh bayangan. Jadi siapapun yang melintas jalan akan terlihat oleh Paidi, namun sebaliknya, orang itu tidak akan melihat si tukang bakso.

Paidi tidak akan pernah melupakan pemandangan indah yang lewat di depannya.

Malam itu, Paidi melihat seorang bidadari berjalan terburu-buru menuju ke pos kamling. Bidadari dalam balutan daster tembus pandang. Rambutnya sebahu, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, dadanya membusung dan pantatnya bulat menggemaskan. Entah kenapa bidadari itu seperti ketakutan dan kebingungan.

Malam itu, Paidi memergoki Alya sedang menemui Pak Bejo.

###

Mall yang dituju taksi yang ditumpangi oleh Lidya dan Pak Hasan berada di tengah kota. Sejak berangkat dari rumah sampai ke lokasi, Pak Hasan lebih banyak diam. Untunglah Pak Hasan tidak turut campur mendikte pakaian yang akan dipakai Lidya sehingga dia bisa pergi menggunakan baju yang lumayan sopan. Lidya mengenakan rok mini selutut dan baju yang tidak terlalu ketat. Walaupun berpenampilan seadanya, Lidya masih tetap terlihat cantik mempesona.

Walaupun mulutnya terdiam, tapi tangan Pak Hasan masih tetap beraksi. Duduk berdampingan dengan Lidya di kursi belakang, Pak Hasan dengan nakal mengelus-elus kaki menantunya itu dengan santai. Berulang kali Lidya merasa tidak enak karena melihat mata sang sopir melirik ke belakang menggunakan kaca.

Bahkan Pak Hasan kadang nekat membelai paha Lidya yang mulus atau sesekali meremas payudaranya. Wanita cantik itu sudah memperingatkan mertuanya agar tidak nekat karena sang sopir bisa melihat mereka. Tapi Pak Hasan hanya tersenyum. Beberapa kali suara sang sopir meneguk ludah bisa terdengar dari belakang.

Akhirnya setelah menempuh jarak cukup jauh, Pak Hasan dan Lidya sampai di pusat pertokoan yang dituju. Ketika Lidya hendak membuka dompet untuk membayar taksi, Pak Hasan menggeleng. Dia melirik ke arah argo dan memberikan uang dari kantong celananya.

Sang sopir melongo melihat uang pemberian Pak Hasan. “Wah, gak salah nih, Pak? Duitnya kurang dong! Argonya aja segitu, masa bayarnya cuma segini? Yang bener aja!” Wajah sang sopir memerah karena merasa dipermainkan.

“Ini, ada kok…” Lidya kembali hendak membuka dompet. Tapi tangannya diremas Pak Hasan yang langsung menggeleng dan melotot galak, Lidyapun mengurungkan niatnya. Kenapa lagi Pak Hasan ini? Mau cari perkara dengan sopir taksi? Keringat mulai menetes di dahi istri Andi itu.

“Menurut mas sopir, menantu saya ini cantik tidak?” tanya Pak Hasan tiba-tiba. Lidya langsung mengernyitkan dahi, perasaannya tidak enak.

Sang sopir meneguk ludah. Pandangannya beralih ke arah Lidya. Bagaikan seekor macan yang siap menerkam mangsa, dia memperhatikan Lidya dari atas ke bawah. “Gila, kirain tadi ini istrinya, soalnya mesra banget, ternyata menantunya ya?”

“Menantu saya ini orangnya sangat pengertian dan baik. Dia senang kalau bisa menghibur orang lain yang kesusahan, contohnya saya ini, saya sudah lama jadi duda. Jadi bagaimana menurut mas, menantu saya cantik tidak?” Pak Hasan mengulang pertanyaannya.

Lidya merasa jengah mendengar percakapan dua orang ini, apalagi sang sopir kemudian memandang ke arahnya dengan remeh dan tersenyum menjijikkan.

“Wah, Pak! Bukan cantik lagi namanya kalau yang seperti ini!” jawab sang sopir taksi, “Cuantikkk!! Kayak bintang sinetron!”

“Bagaimana pendapat mas tentang tubuhnya, bagus tidak?” tanya Pak Hasan lagi. Lidya sudah bersiap keluar dari taksi tapi ditahan oleh Pak Hasan.

“Seksi, Pak!”

“Baiklah, bagaimana kalau untuk membayar kekurangan saya tadi, saya tawarkan bibir menantu saya ini? Masnya boleh mencium dia selama satu menit plus meremas susunya selama itu pula. Bagaimana?” tanya Pak Hasan.

Sopir itu melongo.

Tubuh Lidya langsung lemas. Dia tidak menyangka Pak Hasan akan menggunakan dirinya sebagai alat pembayaran. Geram sekali rasanya Lidya karena diperlakukan seperti pelacur hina oleh mertuanya sendiri. Tapi cengkraman tangan Pak Hasan yang tidak bisa dilepaskannya menyadarkannya akan satu hal, dia harus melakukan apapun perintah sang mertua, separah apapun perintahnya itu.

Sang sopir taksi yang bertubuh kurus dan berkulit gelap terbakar matahari kembali meneguk ludah. Gila, kalau begini caranya orang ini membayar, bisa kurang nanti duit setoran ke bos, tapi kapan lagi dia bisa mencium orang secantik bidadari? Walaupun cuma semenit, tapi bibir Lidya yang ranum itu membuatnya sangat nafsu, belum dekat dengannya saja si otong yang di bawah sudah ngaceng, apalagi kalau boleh mencium, wah, asoy sekali. Bininya di rumah jelas kalah jauh. Hatinya bimbang, tapi nafsu akhirnya mengalahkan akal sehat sang sopir.

Lidya makin merasa tertampar saat melihat sopir berwajah ketus itu mengangguk sambil cengengesan. “Bolehlah, Pak. Sekali ini saja. Kapan lagi saya bisa ngerasain yang begini?”

Pak Hasan tersenyum. “Silahkan mas sopir pindah ke kursi belakang, saya yang akan menghitung waktunya.”

Buru-buru sopir itu pindah ke belakang dan duduk di samping Lidya.

“Pak, aku…” Lidya mencoba memprotes.

Pak Hasan kembali mencengkeram lengan Lidya. Tidak ada gunanya melawan pria tua yang busuk ini, Lidyapun menunduk pasrah.

Sang sopir tidak membuang waktu, begitu Pak Hasan mengangguk memberi ijin sambil memegang erat tubuh Lidya yang sudah siap meronta, dia langsung mencium bibir Lidya. Lidya memejamkan mata karena tidak tahan melihat wajah sopir taksi yang sudah mupeng abis, mulutnya yang terkatup perlahan-lahan dibuka karena ia takut Pak Hasan akan menyakitinya seandainya ia menolak membalas ciuman sang sopir.

Awalnya mereka berciuman dengan lembut, bibir sang sopir yang sudah basah dan bau rokok membelai bibir Lidya yang ranum dan membasahinya pelan-pelan. Lalu pria itu menghisap lembut bibir bawah Lidya sebelum akhirnya benar-benar menangkupkan seluruh bibirnya ke bibir Lidya. Menantu Pak Hasan itu melenguh kesakitan saat kemudian sang sopir meremas buah dadanya dengan kasar dan penuh nafsu. Karena ukuran buah dada Lidya lebih besar dari milik istrinya, sang sopir makin bernafsu, remasan tangan sang sopir makin lama makin cepat.

Lenguhan Lidya membuat mulutnya terbuka, sang sopir menyorongkan lidahnya masuk ke mulut menantu Pak Hasan yang cantik itu. Lidah sang sopir bertemu dengan lidah Lidya dan keduanya bertautan. Perasaan takut mengkhianati suami dan rasa bersalah yang menebal malah membuat Lidya makin pasrah. Dia sudah tidak tahu lagi mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak. Bibirnya selalu menjadi milik Andi sang suami, tapi kini, mertuanya dan bahkan seorang sopir taksi tak dikenal telah mencicipi keranuman bibir Lidya.

Pak Hasan tersenyum kegirangan melihat menantunya kembali melenguh, jelas sekali kalau Lidya lama kelamaan terangsang juga walaupun pada awalnya menolak mati-matian. Dengan sengaja Pak Hasan memberikan kesempatan pada sang sopir untuk menikmati bibir Lidya lebih dari satu menit yang dijanjikan. Dari tonjolan besar di selangkangan, terlihat jelas sopir itu pasti sudah ngaceng sedari tadi, Pak Hasan terkekeh melihatnya.

Ciuman Lidya dan sang sopir taksi berakhir saat Pak Hasan menepuk pundak sang sopir. “Oke, mas. Sudah satu menit lebih dua puluh detik”. Kata Pak Hasan sambil menunjuk jam digital di dashboard taksi. “Yang dua puluh detik aku hitung bonus.”

Sopir taksi itu mengangguk puas. “Wah, bapak beruntung sekali punya menantu seperti ini, dicium semenit aja udah bikin blingsatan! Apalagi kalau dipake!”

Sambil mengucapkan terima kasih, Pak Hasan dan Lidya keluar dari taksi dan masuk ke dalam mall. Sopir taksi itu tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya, sayangnya, beberapa saat kemudian ada seorang penumpang masuk sehingga dia harus segera pergi Entah kapan lagi dia bisa berjumpa dengan si cantik itu, mungkin inilah yang dinamakan pengalaman sekali seumur hidup. Sopir itu menggelengkan kepala mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi dan membawa penumpangnya meninggalkan mall.

###

Anissa Wibisono merasakan kegembiraan yang meluap-luap seakan meledak di dalam dadanya. Tunangannya, Dodit Darmawan masih berada di belakang setir mobil saat Toyota Avanza hitam yang mereka naiki mulai memasuki jalan menuju komplek perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota. Pepohonan yang rindang dan sejuk menyambut mobil yang menggelinding dengan lembut di jalan yang sepi. Anissa melirik ke arah Dodit dan mencubit paha tunangannya dengan genit. Dodit melirik ke arah Anissa dan tersenyum penuh rasa sayang.

Dodit sebenarnya agak ragu berkunjung ke rumah kakak Anissa, mereka belum terlalu akrab sehingga dia khawatir kunjungannya akan mengganggu kegiatan keluarga Mas Hendra. Tapi karena Mas Hendra ditunjuk sebagai calon wali dari Anissa kelak di pernikahan mereka, Dodit mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan Mas Hendra dan Mbak Alya, dalam hatinya yang paling dalam Dodit berpikir mungkin akan jauh lebih mudah mendekati putri kecil mereka, Opi.

Baru beberapa bulan bertunangan setelah hampir dua tahun pacaran membuat pasangan Anissa dan Dodit kembali hot. Dodit yang juga senior Anissa di kampus sudah lulus tahun lalu dan sekarang magang di sebuah perusahaan swasta. Tahun ini Anissa juga dipastikan akan lulus dan pernikahan yang sudah mereka nanti-nantikan akan segera menjadi kenyataan.

Anissa sangat mengagumi Dodit dan bisa berkunjung ke rumah Mas Hendra dan Mbak Alya bersama tunangannya tercinta sudah menjadi keinginannya sejak lama. Karena kesibukannya, Mas Hendra sempat menengok rumah lama. Atas perintah ibunya, Anissa dan Dodit diminta berkunjung dan menginap selama akhir pekan di rumah Hendra agar mereka bisa lebih akrab.

Dodit sedikit grogi, walaupun sudah bertunangan dengan Anissa, dia masih grogi kalau disuruh bertemu dengan keluarganya, apalagi weekend ini mereka berdua diminta menginap di rumah Mas Hendra. Berulang kali Dodit melirik ke arah spion untuk memperhatikan penampilannya.

“Kamu ganteng kok, sayang.” Kata Anissa sambil membenahi make-upnya sendiri. “Tampan, seperti biasa.”

Wajah Dodit memang cukup lumayan, dia pantas bersanding dengan Anissa yang cantik dan menggairahkan. Walaupun masih muda dan tidak memiliki perawatan khusus, tapi tubuh Anissa benar-benar indah dan menggiurkan. Didukung wajah cantik melankolis, kulit putih mulus, buah dada menggunung dan rambut panjang sepunggung, penampilan gadis ini sangat sempurna.

Dodit tertawa mendengar sindiran Anissa. “Ah, kamu ini. Aku kan grogi, say. Ini pertama kali aku menginap di tempat Mas Hendra. Aku harus tampil serapi mungkin. Takut tidak direstui nantinya…”

Anissa tersenyum manis dan dengan rasa sayang membelai rambut Dodit. “Jangan khawatir, sayang. Mas Hendra dan Mbak Alya pasti akan menyukaimu. Mudah-mudahan kamu juga bisa menyukai mereka.”

“Ah, sudah jelas aku menyukai mereka. Kakakmu orangnya baik hati walaupun sedikit pendiam. Mbak Alya apalagi, sangat ramah dan baik hati, cantik pula,” Dodit merapikan kemejanya yang berkerut, “tapi menurutku yang paling enak diajak ngobrol sebenarnya si Opi. Aku sudah kangen ingin menemuinya.”

Anissa tertawa. “Opi memang lucu, menggemaskan sekali. Aku juga sudah kangen.”

Mobil mereka melaju melewati sebuah komplek pemakaman.

“Tapi dengar-dengar, lokasi komplek perumahan ini cukup seram lho. Aku dengar dari beberapa orang teman, katanya di tempat ini banyak setannya.” Kata Dodit dengan sengaja menakut-nakuti tunangannya yang jelita, tentunya dia hanya bohong belaka. “Kalau tidak tahan, boleh tidur seranjang denganku nanti malam.”

“Ha ha! Dasar otak mesum! Aku tidak mudah kau takut-takuti seperti itu!” Anissa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dodit, dengan manja gadis itu menggelayut di samping Dodit. “Biarpun ada suster ngesot dan hantu jeruk purut, aku punya pahlawan perkasa di sampingku!”

Dodit tersenyum sipu, wajahnya memerah tapi dia meneruskan godaannya, “Kalau tidak salah dengar pula, informasi ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya lho, kabarnya ada hantu cabul yang hobi memangsa anak perawan orang!”

Dengan manja Anissa memukuli pundak tunangannya. “Udah ah! Bercandanya nggak asyik! Mas Dodit jahat! Aku nanti nggak bisa tidur!”

“Kamu kan masih perawan, say. Kalau aku jadi kamu… hmmm…” Dodit tersenyum sok ngeri. “aku akan lebih berhati-hati nanti malam… lebih baik aku tidur minta ditemani Mbak Alya atau… atau minta ditemani sama Mas Dodit tersayang! Ha ha ha!”

Anissa mencibir dan menjulurkan lidah, wajahnya yang malu memerah, makin manis saja gadis ini. “Huh, itu kan maunya Mas Dodit! Dasar otak mesum!”

Entah kenapa, ada angin dingin yang bersemilir di udara dan menghembuskan udara dingin di tengkuk Anissa dan Dodit. Perasaan mereka menjadi tidak enak, seakan suatu hal yang buruk akan segera terjadi.

Tiba-tiba saja Dodit menghentikan mobilnya. Dia mengedip ke arah Anissa. “Kau tahu tidak, say. Kau terlihat sangat mempesona.”

###

Lokasi pusat pertokoan yang didatangi oleh Pak Hasan dan Lidya berada di tengah kota dan sangat ramai pengunjung. Hilir mudik orang berjalan keluar masuk toko. Pandangan Lidya masih kabur, entah karena pusing melihat banyaknya pengunjung mall atau perasaan jengahnya yang tidak juga mau hilang setelah mencium seorang sopir taksi yang tak dikenal. Dia merasa seperti seorang pelacur hina dan ini semua karena ulah ayah mertuanya yang bejat.

Pak Hasan menarik tangan Lidya dengan kasar memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal. Pria tua itu berkata, “Ayo, nduk. Kita cari baju yang lebih cocok untuk pelacur seperti kamu.”

Lidya menggeram kesal tapi tak bisa berbuat banyak, mertuanya memang benar-benar tidak tahu malu, berani-beraninya dia mengatainya pelacur, padahal ini semua ulahnya. Lidya hanya diam saja di pojok saat Pak Hasan berkeliling dan menarik beberapa lembar baju wanita, dia bahkan tidak malu saat mengambil beberapa helai pakaian dalam untuk Lidya. Beberapa orang SPG menatap heran pada pasangan aneh ini.

Akhirnya, Pak Hasan menarik lengan Lidya untuk ikut berkeliling bersamanya. “Aku akan memilihkan baju yang terbaik dan bisa membuatmu tampil seksi, nduk. Jangan khawatir, kau pasti akan terlihat sangat mempesona. Baju yang sekarang kamu pakai itu kesannya kuno, aku carikan yang baru.” Kata Pak Hasan.

Lidya melotot galak dan disambut cengiran cabul sang mertua. Setelah mengikuti Pak Hasan berkeliling dan mengambil beberapa baju, akhirnya Lidya digiring ke kamar ganti. Sekilas lihat Lidya langsung tahu jenis baju yang dipilih Pak Hasan, baju-baju yang hanya pantas dikenakan seorang pelacur. Bahkan menurut Lidya, pelacur yang paling menjijikkan sekalipun hanya berani mengenakan pakaian seperti itu saat sedang ‘menawarkan dagangannya’, sementara Lidya akan mengenakannya di dalam mall yang ramai pengunjung.

Lidya dan Pak Hasan masuk ke kamar ganti bersamaan. Lidya melirik ke arah Pak Hasan, dia berbalik ke arah mertuanya dan memandangnya heran, dalam hati Lidya bertanya-tanya kapan mertuanya itu akan keluar dari kamar ganti. Pak Hasan menggelengkan kepala. “Aku tetap di sini. Aku sudah pernah lihat kamu telanjang, apa salahnya melihatmu berganti pakaian? Tidak perlu pura-pura sok suci. Ayo cepat ganti!”

Dengan perlahan Lidya melucuti pakaiannya, walaupun air matanya sudah di ujung pelupuk karena merasakan pahitnya nasib yang ia alami, tapi wanita cantik itu berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia tidak mau Pak Hasan lebih marah lagi. Satu persatu pakaian yang dikenakan dilepasnya, sampai kemudian Lidya hanya mengenakan BH dan celana dalam.

“Kamu memang benar-benar seksi, nduk. Bapak bangga punya menantu seperti kamu.” Celoteh Pak Hasan. “Dilihat saja enak apalagi kalau ditiduri. Lezat sekali.”

Pak Hasan menatap tubuh Lidya untuk beberapa saat. Saat menantunya itu hendak mengambil pakaian, Pak Hasan menggeleng dan melarang. Pria tua itu mengambil sesuatu dari dalam tumpukan baju dan memberikannya pada Lidya, rupanya sebuah celana dalam yang sangat mungil, g-string.

Lidya menatap tak percaya celana dalam yang diberikan Pak Hasan padanya. Dia juga terheran akan dua hal. Satu adalah bagaimana mertuanya itu bisa tahu ukuran celana dalamnya dan yang kedua adalah ukuran celana g-string yang sekarang berada di tangannya. Bagaimana mungkin barang sekecil dan semungil itu bisa dipakai? Terlalu kecil untuk bisa menyembunyikan apa-apa. Celana itu bagaikan tali kecil yang hanya melingkar di selangkangannya.

“Cepat dipakai.” Desis Pak Hasan galak. Dia mencubit pantat Lidya sampai memerah. Lidya meringis kesakitan dan mengangguk.

Dengan malas Lidya melepaskan celana dalam krem yang dipakainya dan menggantinya dengan g-string. Ternyata celana kecil itu pas sekali, bisa dirasakannya temali celana g-string itu menggaris bibir kemaluannya. Hanya dengan mengenakan celana ini saja sudah bisa membuat Lidya sangat terangsang. Wajah Lidya memerah karena malu saat melihat Pak Hasan tersenyum cabul menatapnya di cermin.

“Masih ada yang kurang…” Pak Hasan memperhatikan tubuh menantunya yang hanya mengenakan BH dan celana dalam. “Lepaskan BHmu,” perintahnya kemudian, “dadamu itu bagus, nduk. Dada seperti itu seharusnya dibanggakan dan dipamerkan, bukannya malah disembunyikan di balik BH yang sesak.”

Belum sempat Lidya memprotes, Pak Hasan sudah melangkah ke belakang Lidya, pria tua itu dengan cekatan membuka kait di bagian belakang BH. Wajah Lidya memerah ketika BHnya jatuh ke lantai ruang ganti. Tanpa perlindungan BH, payudara Lidya yang ranum bergelantungan dengan erotis di dada wanita cantik itu.

Pak Hasan meraih ke tumpukan baju yang dibawanya dan mengambil sebuah rok mini berwarna hitam, dia memberikannya pada Lidya untuk segera dipakai. Lidyapun segera mengenakannya. Rok yang diberikan Pak Hasan itu adalah rok mini yang paling pendek yang pernah dipakai Lidya sepanjang hidupnya. Rok itu sama sekali tidak cocok dikenakan seorang wanita dengan kaki jenjang seperti Lidya, karena jika dia membungkuk sedikit saja maka orang-orang di belakangnya akan bisa mengintip isi roknya dengan jelas dan gratis padahal dia hanya mengenakan g-string tipis. Sementara bagian atas rok yang rendah akan membuat orang lain bisa menikmati bagian atas celana dalam yang dipakai Lidya dan celah pantatnya yang menggaris. Dia tidak akan bisa berdiri dengan nyaman.

Lidya mendesah. Dia hanya bisa pasrah, dalam situasi normal, dia hanya mau mengenakan pakaian seksi seperti ini di hadapan suaminya seorang. Tapi saat ini Lidya tidak sedang berada dalam situasi yang normal. Mertuanya yang bejat membuatnya tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut padanya.

Lidya menarik baju dari tumpukan pakaian pilihan Pak Hasan. Sebuah kemeja berwarna putih yang tipis. Tubuh Lidya bergetar ketakutan melihat pakaian yang dipilih Pak Hasan itu. Jika dia tidak diperbolehkan mengenakan BH, maka buah dadanya yang kencang dan besar akan terbentuk jelas di kemeja, bagian lehernya juga rendah sehingga akan mempertontonkan belahan dada Lidya, belum lagi puting susunya pasti akan menjulang maju ke depan. Kemeja itu membuat kemontokan dada Lidya bisa dinikmati oleh banyak orang. Dia akan semakin terlihat seperti seorang pelacur murahan. Dengan panik Lidya memilih baju lain dari tumpukan pakaian, ternyata semua sejenis, malah beberapa pakaian ada yang lebih parah lagi.

“Aku tidak bisa mengenakan baju ini.” Protes Lidya dengan keringat mengalir deras di dahinya. “Tidak mungkin aku bisa mengenakan pakaian seperti ini di luar sana. Pak, kumohon… kasihani aku… tolong, Pak! Carikan baju yang lebih pantas! Aku ini masih menantumu, Pak! Kumohon…”

“Itu baju bagus, nduk. Kenapa tidak mau? Kamu akan terlihat sangat mempesona.” Jawab Pak Hasan sambil menggeleng kepala menolak protes Lidya. “Kamu harus memakainya. Kalau tidak mau, aku akan membiarkanmu keliling mall tanpa menggunakan celana dalam. Pilih mana?”

Lidya tidak percaya ini semua terjadi, ini sudah keterlaluan! Mertuanya benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Tidak saja dia sudah memperkosa Lidya, memukulinya, menggunakan bibir dan dadanya untuk membayar taksi, masih ditambah sekarang hendak mempermalukannya di depan orang banyak! Emosi wanita cantik itu memuncak dan wajahnya memerah, dia marah pada diri sendiri karena lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak sanggup menjalani ini semua. Bagaimana nanti seandainya ada orang yang dia kenal melihatnya berjalan-jalan dengan pakaian seperti ini? Atau bagaimana nanti seandainya Mbak Dina atau Mbak Alya melihatnya? Atau… atau…

“Aku tidak bisa melakukannya…” Lidya berbisik lirih.

Sayang Pak Hasan tak bergeming dan menatapnya galak. Tangannya mencengkeram lengan Lidya hingga terasa sakit sampai ke tulang. Tubuh Lidya bergetar ketakutan. Tidak mungkin ayah mertuanya itu begitu tega, tapi Pak Hasan tidak main-main. Istri Andi itu akhirnya pasrah dan hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju. Ia mencoba mengenakan pakaian yang dipilih oleh sang ayah mertua.

Dalam sekejap, pakaian Lidya sudah berganti. Pak Hasan memasukkan pakaian yang tadinya dikenakan oleh Lidya ke dalam tas plastik. Saat sudah menggunakan pakaian ala pelacur ini, barulah Lidya sadar susahnya berjalan tanpa mempertontonkan bagian tubuhnya yang mulus. Dia harus berhati-hati agar tidak mengangkat kaki terlalu tinggi atau membungkuk terlalu dalam karena bagian pantatnya yang hanya mengenakan celana dalam g-string akan terlihat jelas oleh orang di belakangnya.

Kemeja yang dikenakan Lidya juga lebih mengerikan, kemeja itu seharusnya dikenakan dengan kamisol melihat bagian lehernya yang rendah, tapi Pak Hasan tidak mengijinkan Lidya mengenakannya, seakan-akan belum parah, Pak Hasan juga membuka kancing teratas kemeja Lidya sehingga belahan dadanya makin terlihat jelas, sangat menggoda birahi laki-laki yang menatap. Buah dadanya yang montok dan kencang menyeruak ke depan sementara pentilnya makin lama makin menegang karena ac mall yang dingin. Tiap kali berjalan, Lidya khawatir payudaranya suatu saat akan terpantul dan mental keluar tepat di depan pengunjung mall. Jelas hal itu tidak diinginkan olehnya.

Akhirnya, setelah Pak Hasan puas, mereka berdua pergi membayar ke kasir. Entah sial bagi Lidya entah kebetulan, seorang pemuda tanggung sedang bertugas di meja kasir, kemana para pegawai wanita yang biasa berjaga di kasir? Pak Hasan dan Lidya berdiri di depan pemuda itu.

“Saya beli baju yang sudah saya pakai ini…” desah Lidya lirih. “Juga celana dalam yang saya pakai sekarang…”

Saat melihat ke arah Lidya, rahang si pemuda seakan mau copot. Gila, wanita cantik ini berani sekali berpenampilan seksi! Si otong di selangkangan pemuda penjaga mesin kasir langsung ngaceng melihat penampilan Lidya. Dengan hati-hati pemuda itu melepaskan tag harga dan penjepit anti-maling dari baju dan rok yang dikenakan Lidya, dia melakukannya sambil hati-hati sekali karena takut dianggap tidak sopan, wangi tubuh Lidya membuatnya terbang ke awang-awang. Untung saja Pak Hasan sudah melepaskan tag harga dari celana dalam yang dikenakan Lidya sehingga dia tidak perlu mempertontonkannya pada sang pemuda yang masih terlihat sangat lugu ini.

Beberapa orang customer laki-laki yang kebetulan menemani pasangan mereka belanja juga tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya sambil meneteskan air liur. Penampilan seksi Lidya benar-benar membuat mereka nafsu. Lidya merasa malu dan memperhatikan pentil susunya sendiri perlahan mengeras dan menyodok kemeja yang dikenakannya. Dengan buru-buru Lidya mengeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit.

Pemuda yang menjadi kasir menggesek kartu kredit Lidya dengan tangan gemetar. Beberapa kali dia salah memencet tombol karena terganggu oleh pemandangan indah di hadapannya. Penisnya juga makin ngaceng dan menghunjuk ke luar, pemuda itu dengan malu mengempit otongnya sendiri. Keadaan ini makin membuat Lidya khawatir, sayangnya makin khawatir wanita cantik ini, makin besar puting payudaranya mengembang.

Pemuda kasir itu memberikan kesempatan bagi Lidya untuk menandatangani berkas yang keluar dari mesin kartu kredit. Saat tanda tangan, Lidya terpaksa membungkuk karena posisi kasir yang pendek. Saat itulah satu buah dada Lidya tiba-tiba saja melompat keluar dari dalam kemejanya.

“Ya Tuhan!!” desah si pemuda yang langsung terperanjat.

Dengan cekatan Lidya merapikan kemejanya dan memasukkan buah dadanya kembali ke dalam sebelum ada orang yang melihat. Walaupun hanya beberapa detik saja, tapi pemuda kasir itu jelas sangat beruntung. Wajah Lidya memerah karenanya dan secepat mungkin meninggalkan meja kasir setelah urusan pembayaran usai. Pak Hasan terkekeh bahagia saat mereka akhirnya sampai di luar toko.

“Kamu lihat tidak tadi wajah bocah itu?” Pak Hasan tertawa cekakakan sambil menggandeng Lidya yang pucat pasi menuju tempat lain. Seandainya mungkin, Lidya ingin pingsan saat ini juga.

Berjalan-jalan di sebuah mall besar yang ramai oleh pengunjung dengan mengenakan busana minim jelas bukan ide yang baik menurut Lidya. Berkali-kali wanita muda yang cantik itu membenahi rok dan baju yang dikenakannya agar tidak terlalu mencolok. Tapi seperti apapun usaha Lidya untuk membenahi, kemolekannya mengundang birahi. Kepalanya terus menunduk karena Lidya tidak mau dikenali oleh teman atau siapapun yang kebetulan berjumpa dengannya. Seandainya tidak kenalpun, Lidya tetap merasa malu dengan penampilannya yang seronok. Entah mana yang lebih parah, berjalan di tengah mall dengan pakaian seperti pelacur atau sekalian saja telanjang. Yang jelas saat ini Lidya merasa dirinya sangat telanjang.

Seorang satpam garuk-garuk kepala karena indahnya pemandangan yang disajikan oleh Lidya. Walaupun sudah sering melihat seorang wanita cantik berpakaian seksi, baru kali inilah satpam itu melihat cewek yang sepertinya perempuan baik-baik mengenakan baju super minim. Kalau saja RUU Anti Pornografi & Pornoaksi disahkan, Lidya pasti akan langsung ditangkap polisi.

“Pak, sudah saja ya, Pak. Kita pulang saja.” Wajah Lidya memelas memohon ampun pada ayah mertuanya. Wanita cantik itu terus meratap manja. “Aku malu sekali. Kita pulang saja.”

Pak Hasan menggelengkan kepala sambil tersenyum sadis. “Baru masuk kok sudah mau pulang?”

“Aku malu sekali…”

“Sini, mendekat kesini, nduk!”

Satu-satunya cara bagi Lidya untuk menutupi kejengahan dan rasa malunya yang membuncah adalah dengan merapatkan tubuhnya dengan sang ayah mertua. Pak Hasan tertawa saat sang menantu yang seksi itu mendempel erat. Pak Hasan merangkul pundak Lidya sehingga mereka berdua nampak seperti sepasang kekasih. Beberapa orang yang berpapasan atau nongkrong di pinggir koridor menatap heran ke arah sepasang manusia ini. Bagaimana mungkin bidadari secantik dan seseksi Lidya mau bergaul dengan pria gemuk buruk rupa seperti Pak Hasan?

Saat mereka berjalan berdua, Pak Hasan memperhatikan banyak laki-laki tua muda yang sedang berjalan-jalan melirik penuh minat ke arah Lidya. Buah dadanya yang terpantul naik turun bisa dilihat dengan jelas, sementara kaki Lidya yang jenjang terlihat seksi dan sangat mulus dengan rok super mini yang dikenakannya. Beberapa orang meneteskan air liur melihat kemolekan menantu Pak Hasan itu. Makin bangga mertua bejat itu pada menantunya.

###

Dodit menghentikan mobil tidak begitu jauh dari gerbang utama komplek perumahan kakak kandung Anissa. Tunangannya yang lugu itu terheran-heran.

“Lho? Kok berhenti, Mas? Apa ada yang salah?” tanya Anissa.

Dodit tersenyum. “Tidak ada yang salah. Kamu manis sekali, say. Manis dan seksi.”

Dodit menggeser posisinya duduk agar bisa sedikit mendekati Anissa. Gadis itu langsung bisa melihat perubahan ukuran gundukan di selangkangan Dodit. Tangan Dodit membawa jari-jemari Anissa ke arah gundukan itu. Sembari dibimbing oleh Dodit, tangan Anissa mengelus kemaluan tunangannya yang makin lama makin membesar di balik celana. Tangan Dodit sendiri tidak diam begitu saja. Dia mengelus seluruh tubuh Anissa dari atas sampai ke bawah.

Dengan berani Dodit menciumi wajah dan leher sang kekasih.

“Mas Dodit! Jangan Mas! Apa yang Mas lakukan?” tanya Anissa sambil merem melek, walaupun sepertinya menolak, tapi gadis cantik itu cukup menikmati serangan tangan dan banjir ciuman dari Dodit. Dengan penuh semangat Dodit meremas-remas buah dada Anissa yang montok dan menggemaskan. Anissa berusaha mendorong Dodit menjauh tapi tunangannya itu jelas lebih kuat.

Anissa melenguh keenakan saat Dodit mengecup dan melesakkan tangannya ke balik baju yang dikenakan Anissa. Tangan Dodit kian merajalela di balik baju yang dikenakan gadis cantik itu. Dengan nekat tanpa takut ketahuan orang yang kebetulan lewat, Dodit menyelipkan tangan ke balik BH Anissa yang masih dikenakannya dan memainkan pentilnya dengan memilin dan meremas gumpalan dagingnya yang indah. Berulang kali Anissa melenguh.

Baju Anissa terbuka dan BHnya terangkat naik. Dodit makin leluasa menikmati bagian dada dari Anissa yang memang besar dan indah itu. Makin lama makin tidak kuatlah Dodit menahan gejolak nafsu birahinya, dia menggumuli Anissa dan mencoba melepaskan kancing celana jeans tunangannya. “A-aku ingin bercinta denganmu, say…” bisik Dodit lirih di telinga Anissa. Laki-laki muda yang sudah horny itu memeluk tubuh indah Anissa dan mengulum bibirnya dengan nafsu, kedua tangannya bergerak bebas meremas-remas gundukan indah buah dada Anissa.

Anissa menggelengkan kepala, walaupun merasa panas dan siap bercinta, tapi Anissa tidak mau menyerah pada nafsu birahinya. Dengan sedikit memaksa, Anissa mendorong Dodit menjauh. “Jangan, Mas. Aku mohon… sudah cukup, jangan melakukan sesuatu yang akan kita sesali nantinya… aku tidak bisa… aku mohon, kalau Mas Dodit benar-benar mencintaiku… Mas harus menghargai keputusanku untuk mempertahankan milikku yang berharga sampai pernikahan kita nanti…”

Dodit mundur sambil ngos-ngosan. Nafasnya tersengal dan tidak teratur. Dodit memandang ke arah Anissa dengan kesal.

###

Pak Hasan meninggalkan Lidya sendirian duduk seorang diri di sebuah bangku panjang di depan toko yang menyediakan peralatan elektronik. Pria tua itu cekikikan melihat kegelisahan sang menantu dari jarak jauh. Pria busuk ini memang sengaja membiarkan Lidya sendirian, dia ingin melihat menantunya yang cantik itu digoda laki-laki lain. Dengan pakaian yang super seksi seperti itu, pasti mudah bagi Lidya memperoleh perhatian seorang lelaki, apalagi yang hidung belang. Tanpa mengenakan pakaian seksipun Lidya sudah mampu membuat mata seorang pria terpukau, bagaimana seandainya dia mengenakan baju super seksi?

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Lidya. Duduk di depan sebuah toko elektronik yang ramai dikunjungi oleh laki-laki berbagai usia dengan pakaian seperti seorang pelacur murahan membuatnya ingin lari. Tapi Lidya takut dengan ancaman Pak Hasan yang tidak saja bisa menghajar tubuhnya secara fisik tapi juga menghancurkan masa depannya bersama Andi. Dia hanya bisa pasrah dan berharap mertuanya itu segera keluar dan menjemputnya. Saat ini Lidya hanya ingin segera pulang ke rumah.

Untungnya Lidya membawa handphone. Walaupun simcard yang tadinya berada di dalam hp sudah dicabut dan disita oleh Pak Hasan sebelum mereka berangkat ke mall, tapi dia masih bisa menggunakannya untuk kamuflase. Tidak peduli berapa jumlah lelaki yang menggoda ataupun nanar menatapnya seperti akan menelan tubuh indah Lidya bulat-bulat, wanita cantik itu berkonsentrasi menatap layar mini di hpnya dan berpura-pura memencet tombol.

Sialnya, bukannya cuek, malah makin banyak pria-pria nakal yang memperhatikan Lidya. Seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun keluar dari toko yang dimasuki Pak Hasan dan langsung berdiri di depan Lidya. Pria itu membawa tas jinjing plastik yang berisi mainan anak-anak. Lidya yang melirik diam-diam langsung tahu kalau pria ini pasti sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang masih kecil, tapi sepertinya dia pergi sendirian. Lidya makin gelisah, dia berusaha menyilangkan kakinya sesopan mungkin untuk menutup bagian selangkangannya yang terbuka lebar. Tapi dengan cara itu, kini pahanya yang mulus bisa dinikmati oleh sang lelaki hidung belang yang sedang memanjakan mata.

Lidya kian jengah, dia terus menanti-nanti Pak Hasan yang tidak kunjung keluar dari toko elektronik. Paha mulus Lidya sudah melambai-lambai seakan minta dielus, walaupun sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya, penampilannya tetap terlihat seronok. Mata wanita cantik itu memerah karena menahan air mata. Lidya melirik lagi ke arah sang pria hidung belang, ia berharap pria itu sudah pergi. Ternyata dugaan Lidya salah, orang itu malah makin mendekat. Terlihat jelas dari posisi Lidya, sebuah gundukan kian membesar di bagian selangkangan pria itu. Lidya memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.

Pria hidung belang itu memutari etalase toko seperti seorang anak kecil yang tersesat, berputar tanpa arah yang jelas, tapi satu hal yang pasti, pandangan matanya selalu kembali ke arah paha Lidya yang putih mulus tanpa cacat. Entah harus khawatir atau malah bangga, Lidya sedikit menyunggingkan senyum karena sikap orang itu malu-malu. Tapi Lidya tidak mau bermain api, dia segera membenahi posisi duduknya dan berpura-pura tidak memperhatikan.

Orang itu ternyata malah mendekati Lidya dengan berani. Dia mengira senyuman Lidya tadi ditujukan untuknya!

Lidya mengejapkan mata tak percaya dan menahan nafas saat pria itu datang mendekatinya.

“Sedang menunggu teman?” tanyanya, “saya juga. Boleh saya duduk di sebelah anda? Rasanya capek sekali berdiri di sini.”

Lidya mengangkat bahu dengan cuek, jantungnya mulai berdetak dengan kencang, matanya bergerak mencoba mencari Pak Hasan. Kemana lagi pria tua brengsek itu? Lidya makin gelisah dan ingin segera pergi dari sini. Pria yang genit itu duduk di samping Lidya. Dia sengaja duduk sedikit merapat ke arah si cantik. Lidya bisa merasakan senggolan-senggolan kecil di daerah pinggul dan pantatnya.

“Wah, hp seri **** ya?” tanya pria genit itu lagi sambil menunjuk telpon genggam yang dipegang Lidya. “Saya selalu ingin memiliki hp seperti itu. Sayang di tempat ini sangat susah mendapatkan hp seperti yang anda miliki, hp seri baru stoknya terbatas. Padahal saya tidak peduli dengan harganya yang mahal. Berapapun harganya, pasti saya beli. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, kalau saya menginginkan hp, harus yang memiliki fitur lengkap. Kebetulan hp itu memiliki fitur-fitur seperti yang saya butuhkan.”

Lidya mengangguk dan mengangkat bahu, dia masih cuek dan tidak peduli apa yang dikatakan laki-laki di sebelahnya. Pria itu mendekat dan makin nekat, kini lengan mereka bersinggungan dan saling menempel sisinya. Lidya berusaha menyembunyikan hpnya karena toh telpon genggam itu menyala tanpa simcard. Dia tidak ingin ketahuan oleh si hidung belang ini sedang berpura-pura. Untungnya pria hidung belang itu lebih tertarik memperhatikan paha dan belahan buah dada Lidya yang putih mulus dan menggoda daripada hp yang sedang ia sembunyikan.

Sekali lagi, pria hidung belang itu masih terus mencoba mendekati Lidya.

“Hpnya bagus, cocok dengan pemiliknya yang cantik.” puji si hidung belang dengan rayuannya. “Anda sangat cantik.”

“Terima kasih.” Jawab Lidya mencoba ramah.

“Sebelumnya belum pernah saya memuji seorang wanita yang baru saya temui seperti saat ini.” Kata si hidung belang lagi. “Tapi anda benar-benar mempesona.”

“Terima kasih. Saya beruntung menjadi yang pertama yang pernah anda puji.” Jawab Lidya. Dia menarik nafas lega karena sepertinya orang ini cukup sopan untuk tidak berbuat yang aneh-aneh di tengah keramaian.

“Saya tidak tahu apa yang merasuki diri saya, mudah-mudahan anda tidak tersinggung.” Kata pria itu lagi.

“Ah tidak.” Jawab Lidya pendek. “Saya tidak tersinggung.”

Lidya berusaha membenahi caranya duduk agar pria di sebelahnya tidak bisa menikmati pahanya yang putih mulus dengan bebas. Matanya masih terus mencari Pak Hasan. Kalau hanya digoda oleh laki-laki sudah jadi langganan bagi Lidya, yang membedakan kali ini adalah caranya berpakaian. Dengan busana yang ia kenakan, Lidya seakan seperti seorang pelacur yang sedang menunggu pelanggan. Memalukan sekali!

“Saya juga sangat menyukai pakaian yang anda kenakan, sangat modern dan seksi. Jujur saja saya sangat kagum dengan kecantikan anda. Apakah anda seorang model iklan atau bintang sinetron?” pria itu mulai berani melancarkan serangan.

“Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa.”

Kata-kata ‘ibu rumah tangga’ membuat lelaki itu sedikit terkejut. Jarak mereka merenggang. Lidyapun akhirnya bisa menarik nafas lega. Tapi pria itu masih juga belum mau menyerah.

“Apa anda sedang menunggu suami anda?” tanya laki-laki itu.

“Tidak.” Kali ini Lidya menjawab jujur. “Suami saya sedang berada di luar kota. Saya bersama ayah mertua saya.”

Di saat genting, Lidya malah keceplosan mengatakan hal-hal jujur pada laki-laki ini, tapi memang Lidya mulai kebingungan mencari kata-kata karena ditelan oleh perasaan gelisah yang makin lama makin membuncah, dan pada akhirnya, dia mengatakan hal jujur di saat dia harus berbohong. Keringat si cantik mengalir deras. Laki-laki itu merasa kembali mendapatkan angin, dia merapat lagi, kali ini bahkan agak mendesak tubuh Lidya.

“Wah, kalau begitu suami anda adalah seorang pria yang sangat beruntung karena memiliki seorang istri yang cantik dan seksi yang juga sangat sayang pada mertua.” Katanya. “Saya selalu berharap istri saya berani mengenakan pakaian yang lebih membuat saya bergairah tapi dia selalu menolaknya.”

“Saya yakin istri anda punya alasan sendiri.” Jawab Lidya sambil menjauh.

Lidya tidak berani menatap mata laki-laki di sebelahnya, pria itu menatapnya nanar seperti ingin menjilat seluruh tubuh Lidya. Lidya ingin pergi, dia ingin cepat-cepat meninggalkan pria ini, dia takut sekali, tapi Lidya jauh lebih takut pada Pak Hasan sehingga dia tidak beranjak meninggalkan bangku.

“Tentunya kaki istri saya yang gemuk tidak bisa dibandingkan dengan keindahan kaki anda yang langsing. Suami anda benar-benar seorang laki-laki yang beruntung.” Kata pria itu lagi. “Sayang dia tidak mempedulikan anda dan pergi ke luar kota sendirian…”

“Dia sedang dinas keluar kota .”

“…mungkin saja. Tapi hari ini, di mall ini, pasti banyak orang yang mau meninggalkan istri mereka dan mengajak anda pulang ke rumah.”

“Anda sungguh berani mengatakan hal itu.”

Pria itu tersenyum penuh percaya diri, tangannya perlahan mengelus lengan Lidya yang putih mulus, dia benar-benar yakin Lidya akan jatuh ke tangannya. Si cantik itu mulai jengah, kata-kata orang ini terdengar sopan dan terpelajar, sayang kelakuannya menjijikkan.

“Apakah anda termasuk pria tidak mempedulikan istri anda?” tanya Lidya menantang. Dia menepis tangan pria hidung belang tak dikenal yang mulai keterlaluan itu.

“Bagaimana pendapat anda? Apa anda mau saya ajak pulang?” tanya pria itu sambil cekikikan, wajahnya terlihat sangat nafsu dan menjijikkan. Dalam benaknya pasti sudah terbayang beribu macam cara menunggangi Lidya. Dia pasti sudah gatal ingin melesakkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang rahim si cantik ini.

“Maaf sobat. Tapi nampaknya menantu saya tidak tertarik pada anda.” Sebuah suara menyelamatkan Lidya.

Pak Hasan sudah datang.

Beberapa hari ini Lidya merasa jijik dan marah pada mertuanya, baru kali ini dia merasa sangat lega Pak Hasan datang dan menyelamatkannya dari godaan seorang lelaki hidung belang. Lidya segera bangkit dan berlindung di balik tubuh Pak Hasan. Laki-laki itu tahu diri dan mundur teratur sambil memasang muka masam. Tapi dia masih sempat melirik ke arah Lidya dan menjilat bibirnya penuh nafsu.

Dasar hidung belang!

Pak Hasan memeluk pinggang menantunya dan mereka berjalan lagi menyusuri lorong-lorong mall. Karena sudah diselamatkan dari lelaki iseng dan terlindungi, Lidya diam saja saat tangan mertuanya itu nakal meraba dan meremas-remas pantatnya saat mereka berjalan bersama. Lidya seakan sudah tidak peduli seandainya ada orang yang saat itu menatap mereka.

Satu perasaan bangga memenuhi batin Pak Hasan. Seumur hidupnya, dia belum pernah memiliki suatu hal yang bisa dibanggakan. Kini, saat berjalan bersanding dengan seorang wanita yang masih muda, cantik dan seksi yang bisa ditunggangi setiap saat, banyak lelaki menatapnya iri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pak Hasan bisa memamerkan sesuatu yang membuat orang lain ingin menjadi dirinya. Pak Hasan benar-benar puas.

“Bagaimana rasanya, nduk?” bisik Pak Hasan di telinga Lidya.

Sekujur tubuh wanita jelita itu merinding karena bisikan Pak Hasan disertai pula dengan ciuman dan jilatan kecil di telinganya.

“Ra-rasanya apa, Pak?” Lidya menggelinjang geli.

“Bagaimana rasanya digoda laki-laki?”

“Bu-bukan yang pertama kali. Aku tidak suka…” Lidya tidak meneruskan kalimatnya karena sekali lagi Pak Hasan mengendus telinganya yang wangi. Lidya tidak bohong, walaupun terkesan sombong tapi memang dia sudah sering sekali digoda laki-laki hidung belang. Sebenarnya Lidya benci sekali pria semacam itu, karena meskipun Lidya sudah mengenakan pakaian yang sopan, tidak seksi dan tidak menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, masih banyak yang mendekatinya dengan tidak sopan. Kali ini situasinya sedikit berbeda, karena Lidya jelas-jelas menggunakan pakaian seksi yang mengundang birahi, dia bagaikan seorang pelacur yang sedang menawarkan dagangan dengan mempertontonkan keindahan lekuk tubuhnya. Lidya meneruskan kalimatnya dengan lirih sambil memejamkan mata sesaat ketika lidah Pak Hasan nekat menjelajah daun telinganya di tengah keramaian mall. “…tidak suka…”

“Kamu tidak suka digoda?”

“Ti-tidak…”

Pak Hasan menyeringai jahat.

###

“Kamu kecewa, Mas?”

Dodit yang sedang merapikan bajunya terdiam membisu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Anissa itu? Jujur saja dia kecewa karena tidak bisa melampiaskan nafsu birahinya yang sedang memuncak, tapi di sisi lain, dia juga sangat bangga pada kekasihnya karena masih menjunjung tinggi nilai dan budaya timur yang kini sudah mulai luntur. Sangat jarang menemui gadis seperti Anissa.

“Kamu pasti kecewa ya, Mas?” Anissa mengulangi pertanyaannya.

Dodit tersenyum dan mengelus rambut tunangannya yang panjang dan indah dengan mesra. “Kenapa harus kecewa? Aku bangga sama kamu, say. Di jaman sekarang ini, susah sekali menemukan gadis yang masih memandang penting keperawanan seperti kamu. Aku bangga dan merasa terhormat. Pernikahan kita sudah hampir tiba, jadi kenapa harus kecewa? Aku hanya perlu sabar dan menunggu sebentar lagi.”

Anissa tersenyum mendengar perkataan Dodit. Dia tidak tahu apakah Dodit berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya atau benar-benar jujur, tapi Anissa yakin Dodit pria yang baik, dia bersedia menunggu sampai datang hari pernikahan mereka untuk bisa bersatu dengannya. Anissa tahu saat ini Dodit sudah sangat horny, tapi kemampuannya mengendalikan diri memang pantas diacungi jempol. Dia dengan bangga akan menyerahkan segalanya untuk Dodit di hari pernikahan mereka. Dia akan memberikan miliknya yang paling berharga, kegadisannya yang sudah dia jaga sejak kecil.

“Terima kasih, sayang,” kata Anissa sambil lembut mengecup pipi Dodit, “kau tahu seandainya kau teruskan, aku tidak akan bisa menolakmu karena aku sangat mencintaimu, tapi aku ingin malam pertama kita benar-benar menjadi malam pertama yang sangat berharga.”

Dodit tersenyum dan balas mengecup pipi Anissa, dia kembali terdiam dan membisu. Dodit memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.

###

“Pak, kenapa kita harus mencarinya? Dia menjijikkan! Dia menggodaku… dia… dia…” kata-kata Lidya patah-patah karena bingung mencari kata yang cocok. Dia kesulitan berjalan cepat sambil tetap mempertahankan pakaiannya agar tidak terbuka dengan vulgar, meskipun saat ini dia sudah seperti seorang pelacur hina.

“Itu sebabnya kita harus menemuinya! Bapak akan memberinya pelajaran berharga!”

Pak Hasan mencari-cari pria hidung belang yang tadi menggoda Lidya. Setelah berkeliling dari lantai ke lantai, mereka menemukannya sedang duduk di sebuah restoran siap saji, dia segera menarik tangan Lidya dan menghampirinya. Lidya yang sudah berharap tidak akan bertemu lagi dengan orang itu menjadi sangat kecewa, bagaimana mungkin di mall sebesar dan seramai ini, Pak Hasan bisa menemukan orang itu lagi?

“Selamat siang, mas.” Kata Pak Hasan. Orang itu memang lebih muda dari Pak Hasan, dengan pandangan curiga dan ragu pria hidung belang yang tadi menggoda Lidya menatap ke arah Pak Hasan dan menantunya.

“Ya?” pria genit itu mengernyitkan dahi.

“Kenalkan, nama saya Hasan dan ini menantu saya, Lidya.” Kata Pak Hasan sambil mengajak pria mupeng itu bersalaman.

“Saya Nyoto.” Pria itu masih menjawab dengan pendek, tapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk menjabat tangan Lidya dan mengelusnya sedikit. Pria itu terkekeh pelan menikmati halusnya tangan Lidya. Si cantik itu sendiri ingin mati rasanya.

“Saya lihat tadi Mas Nyoto tertarik dengan menantu saya, apa benar?”

“Kalau iya kenapa?” Nyoto menjilat lidahnya ke arah Lidya dengan sengaja, membuat Lidya makin jengah. Dia menarik-narik ujung baju Pak Hasan dan mengajaknya pergi, tapi rupanya mertuanya itu punya rencana lain.

“Yah, menantu saya ini rupanya juga sangat tertarik pada anda. Bahkan dia tadi mengatakan kalau seandainya diberikan kesempatan sebentar saja dia ingin merasakan kehangatan yang mungkin bisa anda berikan padanya. Berulang kali dia meminta untuk kembali dipertemukan dengan anda.” Kata Pak Hasan sambil melirik Lidya puas.

Lidya benar-benar ingin mati, dua pria ini pantas dibunuh. Seandainya bisa, dia ingin mengambil sebilah pisau dan menancapkannya di dada Pak Hasan dan Nyoto. Pria yang bernama asli Sunyoto itu bagaikan baru saja menjadi pemenang undian berhadiah, dia hampir-hampir melompat dari kursinya dan hendak memeluk Lidya. Tapi Pak Hasan menghentikannya.

“Tapi tentu saja, saya tidak bisa mengijinkan Mas Nyoto memakai menantu saya ini, karena biar bagaimanapun juga, dia masih menantu saya dan istri sah dari anak saya. Saya tidak akan mengijinkan siapapun juga menidurinya.” Kata Pak Hasan sambil menatap Nyoto galak.

Nyoto yang ternyata cukup pengecut kembali duduk ke kursinya. Pria genit itu menatap Pak Hasan heran. “Kalau tidak boleh dipakai, buat apa ditawarin?”

“Berhubung anak saya sedang keluar kota, menantu saya ini sangat kesepian. Bagaimana kalau Mas Nyoto bermain-main sebentar dengan buah dadanya? Seperti yang mas Nyoto lihat, Lidya tidak mengenakan BH dan ingin dibelai-belai sebentar di kamar kecil.” Kata Pak Hasan.

Perlahan Lidya meneteskan air mata. Dia sudah tidak mampu lagi berucap ataupun mengeluarkan protes. Penghinaan Pak Hasan sudah hampir membuatnya pingsan, dia sama sekali tidak mengira mertuanya itu akan menyerahkannya pada pria menjijikkan ini.

Nyoto melonjak lagi. “Berapa perlu saya bayar untuk melakukan itu?”

“Mas Nyoto hanya perlu membelikan makan siang untuk kami berdua.”

“Setuju.” Nyoto langsung mengangguk. Dia meraih dompet dan mengeluarkan lembaran ratusan ribu pada Pak Hasan. “Terserah kalian mau makan di mana.”

Dengan buru-buru Nyoto menggandeng lengan Lidya dan menariknya ke kamar kecil di ujung gang yang untungnya sedang sepi. Dia tidak peduli lagi dengan makan siangnya yang belum habis di restoran siap saji tadi. Dia lebih bernafsu menikmati buah dada Lidya. Pak Hasan tertawa sambil mengikuti mereka berdua dari belakang.

Nyoto tidak menunggu terlalu lama, saat berada di gang menuju kamar kecil yang sepi, dia segera menubruk Lidya. Dengan kasar dia membuka kancing baju kemeja Lidya dan tidak mempedulikan airmata yang menetes di pipi wanita cantik itu. Lidya benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah.

“Kamu pikir kamu bisa lolos dariku, yah?” kata Nyoto sambil terkekeh pada Lidya. “Untung sekali kamu punya mertua yang pengertian. Dasar sombong, rasakan sekarang pembalasanku!”

Dengan sekali sentak, kemeja Lidya terbuka lebar. Perempuan cantik itu menjerit lirih tak berdaya, tangisannya makin menjadi. Buah dada Lidya meloncat keluar tepat di hadapan Nyoto dan pentilnya yang menunjuk ke depan mempesona pria genit itu. Lidya kembali menjerit dan terisak saat Nyoto dengan kasar meremas buah dadanya dengan gemas dan memainkannya dengan nakal. Lidya bisa merasakan jari jemari Nyoto melingkari pentilnya dan perlahan memencetnya. Karena tubuh Lidya dan Nyoto berdempetan, Lidya bisa merasakan gumpalan kemaluan di selangkangan Nyoto makin lama makin membesar.

Cukup lama Nyoto meremas-remas buah dada Lidya dan mereguk kenikmatan darinya, sebelum ada orang yang melewati gang itu, akhirnya Pak Hasan menghentikan ulah cabul Nyoto pada menantunya. Nyoto mengangguk tanda mengerti dan menghentikan serangannya pada dada Lidya. Wanita cantik itu jatuh luruh ke lantai sambil terus menangis terisak-isak.

“Maaf, Mas. Waktunya habis.” Kata Pak Hasan.

“Wah… nanggung sekali, Pak. Saya belum menjilatinya, saya belum menikmati buah dada itu seutuhnya.” Nyoto ngos-ngosan menahan birahi yang sudah hampir memuncak. “Saya ingin lebih, saya ingin menidurinya.”

Nyoto meraih dompet dan bersiap mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lagi. Pak Hasan tersenyum dan menggeleng. “Maaf sekali, tapi perjanjian adalah perjanjian. Dia masih menantu saya, Mas. Saya masih harus menghormati dia.”

Nyoto menunduk kesal, dengan setengah membentak, dia mendorong Pak Hasan. “Berapapun saya bayar, Pak! Berapapun!! Saya punya ATM, kartu kredit, semua buat Bapak! Saya hanya ingin memeknya! Saya ingin memek menantu bapak ini! Sekali saja!!”

Pak Hasan menyeringai marah dan balas mendorong Nyoto, di luar dugaan, ternyata Pak Hasan jauh lebih kuat dari pria yang sedang birahi ini. “Saya sudah katakan berulang-ulang, perjanjiannya hanya soal buah dada Lidya, bukan memeknya! Dia bukan pelacur!!”

Nyoto menunduk lagi. Akhirnya emosinya perlahan menyurut. Dengan langkah lemas dia meninggalkan Pak Hasan dan Lidya. Di luar dugaan, Pak Hasan mendatangi Lidya dan memeluknya mesra. Lidya memeluk Pak Hasan erat dan menangis sejadi-jadinya. Pak Hasan mengelus-elus rambut Lidya dan memberinya penghiburan. Walaupun merasa aneh, Lidya sedikit merasa terlindung ulah sikap Pak Hasan yang tiba-tiba baik ini.

Nyoto ternyata masih belum menyerah. Dia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menaruhnya di lantai. “Seandainya bapak butuh uang dan berniat melakukan perjanjian lagi, silahkan hubungi saya. Saya bukan orang yang kaya raya, tapi berapapun saya bayar untuk bisa menikmati memeknya.”

Pak Hasan menatap Nyoto sambil meringis sadis. Dia mengambil kartu nama itu dengan terkekeh. “Yah, kita toh tidak tahu kapan butuh uang. Siapa tahu Lidya suatu saat nanti kangen pada Mas Nyoto.”

Lidya kaget dengan ucapan mertuanya dan mendorongnya menjauh. Pak Hasan dan Nyoto tertawa berbarengan.

“Kurang ajar! Kalian anggap apa saya ini? Barang dagangan? Pelacur murahan?” Lidya menjerit marah. Kesabarannya sudah habis. “Pak, saya ini menantumu! Istri dari anakmu! Teganya kamu melakukan ini semua?”

Plakk!! Tamparan Pak Hasan mendarat di pipi Lidya. Bekas merah merona tertinggal di pipi mulus wanita cantik itu. Lidya kembali menangis tak tertahankan.

“Jangan pernah bicara kurang ajar di depan kenalan baru!” bentak Pak Hasan. “Maafkan menantu saya, Mas Nyoto. Seandainya dia nanti merindukan remasan-remasan anda, pasti saya hubungi anda lagi.”

“Baik, saya tunggu telpon anda.” Kata Nyoto sambil menyeringai puas. Sebelum pergi, pria genit itu mengerlingkan mata pada Lidya yang masih menangis.

Lidya menatap mertuanya ketakutan.

“Bersihkan wajahmu di kamar kecil. Benahi make-upmu! Kuberi waktu sepuluh menit. Kalau selesai dalam sepuluh menit, kita pulang. Kalau tidak, akan aku cari orang lain lagi untuk meremas-remas buah dadamu!”

Lidya segera lari ke kamar kecil dengan terburu-buru.

###

“Bang! Baksonya tiga ya, Bang!”

“Iya Bu!”

Akhir-akhir ini Paidi sering lewat di komplek rumah di sekitar pos kamling lokasi dia memergoki wanita cantik idamannya. Pagi siang malam Paidi berkeliling untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok bidadari yang kemarin lusa dia lihat. Wanita itu sangat cantik dan terlihat seperti wanita baik-baik. Paidi tidak habis pikir apa yang dilakukan wanita seperti itu malam-malam di pos kamling. Bisa dipastikan wanita cantik itu adalah warga komplek ini, itu sebabnya Paidi bersemangat mencarinya. Walaupun nanti kalau sudah bertemu, Paidi tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Hari ini, Paidi kembali berusaha mendapatkan jawabannya. Kebetulan sekali ada tiga orang ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi dan membeli bakso dagangannya. Dengan hati-hati Paidi mendekati mereka dan berpura-pura memotong-motong sayuran, Paidi menguping pembicaraan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol, siapa tahu ada informasi yang bisa dia simpan.

“Eh, Bu Syamsul, katanya Pak Bejo punya cewek simpanan baru lho.”

“Cewek simpanan? Pak Bejo yang gemuk itu? Pak Bejo Suharso? Masa sih, Bu? Siapa yang mau sama Pak Bejo? Istrinya aja nolak-nolak!”

Ibu-ibu itu tertawa.

“Bener kok, Bu. Ini gosip dari Bu Bejo sendiri. Katanya akhir-akhir ini Pak Bejo jadi lebih sering dandan dan lebih wangi. Dia jadi lebih memperhatikan diri. Kalau dulu boro-boro dia mau pakai minyak wangi, sikat gigi aja jarang!”

“Ah, Bu Tatang ini…”

“Kalau berita itu bener, saya jadi heran sendiri. Siapa sih wanita bodoh yang mau sama Pak Bejo? Meskipun di depan orang kelakuannya baik, tapi sebenarnya itu kedok karena di belakang dia punya perangai dan watak yang jelek! Busuknya kan sudah terkenal sampai kemana-mana! Kasihan istrinya.”

“Iya tuh, saya juga sering ngeri kalau melihat Pak Hendra dan Bu Hendra mempercayakan rumah dan anak pada Pak Bejo. Mungkin mereka satu-satunya warga yang tidak tahu seperti apa Pak Bejo sebenarnya.”

“Yah, kalau soal itu sih, awalnya juga tidak ada yang tahu, Bu Syamsul. Soalnya Bu Bejo kan orangnya baik banget! Suka menolong dan ramah. Bu Hendra juga baik, tidak pernah mencurigai orang dan sifatnya lemah lembut, jadi saya yakin keluarga Pak Hendra pasti mempercayai keluarga Pak Bejo.”

“Eh, jangan-jangan cewek simpenan Pak Bejo itu Bu Hendra yah?”

Ibu-ibu itu kembali tertawa.

“Ah, Bu Tatang ini ngaco terus! Mana mau Bu Hendra sama Pak Bejo! Suaminya saja cakep banget, belum lagi Pak Bejo itu gemuk, botak dan jelek! Buat apa Bu Hendra yang cantik dan seksi itu selingkuh sama Pak Bejo? Kalau beneran mau selingkuh kan dia bisa cari laki-laki lain yang lebih cakep? Ah ada-ada saja.”

“Bener, Bu Syamsul. Bu Hendra itu bener-bener tipe ibu rumah tangga idaman di komplek kita. Masih muda, cantik, seksi, setia, baik, ramah, sopan, udah gitu lemah lembut pula. Gak ada kurang-kurangnya. Suami saya aja sering diam-diam melirik nakal kalau sedang berpapasan di jalan dengan Bu Hendra.”

“Wah, suami saya juga, Bu Sani. Kalau sudah ketemu Bu Hendra, itu mata kayaknya nggak mau lepas-lepas! Dilalapnya sampai habis penampilan Bu Hendra dari atas ke bawah! Kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, bodinya yang aduhai, buah dadanya yang indah, wajahnya yang cantik, semua ditelan mentah-mentah. Dasar laki-laki, kalau sudah lihat yang bening lupa sama istri sendiri!”

Ibu-ibu itu tertawa lagi.

Paidi mengangguk-angguk sambil memainkan mangkok baksonya. Pria itu sepertinya mulai menemui titik terang.

Paidi mencatat informasi yang didapatkannya dari percakapan ibu-ibu itu dalam benaknya. Sepertinya ada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi yang tinggal di komplek ini dan menjadi idola tidak saja bagi kaum pria tapi juga kaum wanita. Perempuan itu adalah istri dari seorang warga komplek yang bernama Hendra, apakah mungkin dia wanita yang dia lihat malam itu?

Paidi jelas berniat mencari tahu.

###

Lidya masuk ke kamarnya dengan langkah lunglai. Badannya lemas dan capek, wajahnya kuyu, seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh kegiatannya sehari bersama Pak Hasan. Dia sudah tidak bisa lagi menangis sedih karena sangat lelah. Dia hanya ingin bisa tidur dengan tenang malam ini.

Lidya menatap dirinya sendiri dalam cermin, dia seolah melihat seorang pelacur yang sudah kelelahan melayani pelanggan. Tidak nampak lagi sosok wanita cantik yang ceria seperti dahulu, tidak ada lagi senyum tersungging di bibirnya yang mungil. Semua hilang karena ulah mertua yang cabul.

Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Pak Hasan masuk sambil cengengesan.

Untuk beberapa saat lamanya Lidya berdiri kebingungan tanpa tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Mulutnya sudah terbuka, tapi tak kunjung keluar kata-kata yang bisa ia ucapkan. Seluruh pikirannya sudah kabur. Akhirnya Lidya hanya berkata lirih. “Apa yang Bapak inginkan? Aku capek sekali.”

“Apa yang aku inginkan? Kamu ini benar-benar bodoh atau cuma pura-pura saja, nduk? Tidak usah pakai basa-basi, langsung dibuka saja bajumu.” Perintah Pak Hasan. “Sejak tadi pagi aku menahan diri tidak memakai memekmu, sekarang saat yang tepat”

Wajah Lidya berubah menjadi muram. Dalam hatinya dia sudah berharap Pak Hasan tidak akan menyetubuhinya lagi malam ini. Harapannya jelas tidak terwujud. Lidya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mertuanya yang cabul itu sudah pernah menidurinya beberapa kali dan pakaian yang dikenakannya sendiri saat ini sangat terbuka, apalah bedanya kalau saat ini dia bugil atau tidak?

Senyum yang tersungging di bibir Pak Hasan makin melebar saat melihat Lidya melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Seluruh pakaian yang dibelinya siang tadi di Mall akhirnya terlepas dari tubuh sang menantu. Kemeja tipis menerawang tanpa BH, rok mini hitam yang seksi dan celana dalam g-string super kecil jatuh satu persatu ke lantai.

“Indah sekali.” Pak Hasan tertawa puas menyaksikan menantunya sendiri berdiri telanjang bulat dan kedinginan dihadapannya. Pria tua itu juga meringis melihat Lidya berusaha keras menutupi rasa malu luar biasa yang ditimbulkan karena berdiri tanpa sehelai benangpun di depan mertuanya sendiri. “Berbaliklah, nduk. Aku ingin melihat pantatmu.”

Lidya menggigit bibir bawahnya dengan geram dan menurut pada perintah Pak Hasan. Wanita cantik itu berbalik dengan sangat perlahan sehingga mertuanya bisa melihat dengan jelas gelombang gerakan erotis yang ditimbulkan oleh pantat Lidya. Pantat sang menantu sangat mempesona Pak Hasan. Pantat yang bulat, putih mulus dan tanpa cacat, kemolekan yang sempurna.

“Menakjubkan.” Kata Pak Hasan. Matanya nanar menatap keindahan bokong sang menantu. “Berbaringlah di ranjang dan buka kakimu lebar-lebar. Aku pengen ngentot sekarang.”

Lidya menahan nafas karena terkejut dan mulai panik. Dia berusaha menghindar dari Pak Hasan. Setelah seharian mendapatkan rangsangan demi rangsangan, Lidya takut dia mulai rindu pada kontol sang mertua yang beberapa hari ini telah membuatnya orgasme berkali-kali. Hal ini berusaha dihindarinya sedini mungkin. Dia tidak mau tenggelam dalam nafsu pada sang mertua. Dengan rasa takut yang amat sangat, Lidya berusaha menghindar. Dia masih memiliki kesadaran untuk menolak. Walaupun sudah pernah diperkosa, Lidya tetap menolak untuk pasrah. Tapi apalah daya seorang wanita lemah sepertinya? Apalagi kini Lidya sudah bugil di hadapan sang mertua.

“Baiklah, sepertinya kau mendapat kesulitan berkomunikasi dengan Bapak, ya nduk?” kata Pak Hasan sambil tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kita adakan perjanjian saja?”

“Pak, aku mohon. Cukuplah apa yang Bapak lakukan ini. Perbuatan kita sangat nista, Pak. Ijinkan aku…”

“Shhh, jangan ribut to, nduk. Kita buat perjanjian saja ya? Soalnya aku masih penasaran sama tubuhmu yang seksi itu,” kata Pak Hasan. Wajahnya terlihat sangat sadis dan membuat Lidya bergidik ketakutan, tamparannya siang tadi di mall masih terasa panas di pipinya, “Kali ini kau akan memperbolehkanku menyetubuhimu tanpa perlawanan. Tidak hanya itu saja, kali ini kau juga harus membuatku orgasme dan kalau kau tidak bisa membuatku orgasme secepat mungkin, ah, resiko ada di tanganmu…”

Lidya menatap Pak Hasan heran. “Kenapa resiko ada di tanganku?”

“Oh ya, Lidya sayang. Ada sesuatu yang lupa aku sampaikan padamu.”

Lidya menatap mata ayah mertuanya dengan pandangan bertanya-tanya. Tubuhnya yang telanjang menggigil terkena angin. Lidya berusaha menutup ketelanjangannya dengan memeluk dirinya sendiri. Tangan kanan menyilang menutupi pentil dan tangan kiri menutup gundukan lembut di selangkangan.

“Aku bohong soal Andi.” Kata Pak Hasan.

Jantung Lidya berdetak kencang, perlahan rasa takut menyebar di seluruh tubuhnya. Pak Hasan tersenyum menghina, dia bergerak mendekati Lidya dan memeluk tubuh menantunya itu erat-erat. Tangan-tangannya yang nakal mengelus dan meraba lekuk-lekuk tubuh Lidya. Wanita cantik itu masih tak bergeming, kedua tangannya juga masih berusaha menutup auratnya. Pak Hasan terkekeh, dia dengan berani menyentakkan tangan kanan Lidya dan meremas-remas payudaranya perlahan.

“Andi pulang hari ini. Dia baru saja telpon dari bandara.” Kata pria tua itu.

Mata Lidya terbelalak.

“Dia akan segera sampai di rumah.”

Dengan panik Lidya mencoba melepaskan diri dari pelukan ayah mertuanya. Menantu Pak Hasan yang cantik itu menjerit-jerit dan menangis tak tertahankan, dia berusaha menarik tubuhnya dari kuncian sang mertua namun tidak berhasil. Tubuhnya yang indah dan basah oleh keringat tak bisa lepas dari pelukan Pak Hasan.

“Lepaskan aku! Lepaskan! Andi sudah mau pulang! Kita tidak boleh terlihat seperti ini! Kumohon, Pak! Kasihani aku! Kasihani akuuu!!”

Pak Hasan meringis sadis dan tak memberi ampun sedikitpun. Gerakan tangannya meremas buah dada Lidya malah makin kencang.

“Aduh, sial sekali! Aku lupa mengunci pintu depan!” goda Pak Hasan.

Lidya menjerit-jerit ketakutan. Pelukan Pak Hasan makin erat.

“Bagimana menurutmu, nduk? Aku janji akan segera melepaskanmu begitu aku mencapai klimaks. Sebaiknya kita segera bersetubuh dengan cepat karena Andi hampir sampai. Aku tidak berani menjamin apa yang akan dilakukan anakku itu padamu seandainya dia pulang mendapati istrinya yang cantik jelita telanjang bulat digauli oleh bapaknya sendiri. Jujur saja, aku tidak peduli seandainya Andi pulang dan menemui kita dalam posisi seperti ini, tapi aku yakin pendapatmu pasti sebaliknya. Pasti kau ingin ini semua cepat selesai, iya kan?”

“Ba-bapak benar-benar sudah gila… aku… aku tidak bisa melakukannya! Mas Andi… mas Andi sudah mau pulang! Ti-tidak akan sempat! Kita tidak akan sempat ber…” Lidya menjerit putus asa, tubuhnya yang telanjang kian bersinar indah karena derasnya kucuran keringat bercampur dengan air mata. Wajahnya yang menunjukkan rasa takut dan gelisah malah membuat Pak Hasan kian terangsang dan bergairah. Pria tua itu melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat ranjang.

“Tidak sempat bercinta, maksudmu? Kalau begitu, tidak ada waktu lagi untuk berpikir, nduk,” kata Pak Hasan sambil menyeringai, “Andi bisa setiap saat pulang ke rumah. Berapa jam sih waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sini dari bandara?”

“Tidak bisa. Tidak sempat. Tidak … aku tidak mau!” Lidya terus menggeleng. Pikirannya kalut. Dia meremas-remas jemarinya dengan perasaan gelisah.

“Waktu terus berjalan, nduk,” Pak Hasan terkekeh menghina, “Sebenarnya kau tidak punya banyak pilihan, kalau tidak mau melayaniku, ya berarti kau lebih memilih kuperkosa saja. Karena kalau itu yang kau mau, aku tidak yakin Andi bisa menerima kenyataan yang harus dihadapi. Bayangkan, istri dan ayahnya…”

“Hentikan!! Jangan bapak teruskan kata-kata itu!!” Lidya makin panik.

Desah nafas Lidya yang memburu kian keras terdengar, bahkan sampai ke telinga Pak Hasan. Dadanya naik turun dengan cepat dan nafasnya yang cepat terdengar berat. Lidya berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini tapi sepertinya tidak ada pilihan yang bisa menyelamatkannya.

Lidya menundukkan kepala dengan pasrah. Tidak ada jalan lain.

Lidya berbisik lirih memohon maaf kepada suaminya. Sambil terburu-buru Lidya segera menghampiri Pak Hasan, menarik celana pendeknya dan meraih tongkat kemaluan kebanggaan sang mertua. Mata Lidya terbelalak melihat ukuran penis Pak Hasan yang terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Nah, gitu kan enak, bagaimana kontolku, nduk? Pas di tanganmu yah?” Pak Hasan tertawa melihat menantunya akhirnya mau melayaninya tanpa paksaan. Selama ini Pak Hasan hanya berhasil memperkosa Lidya, belum bisa membuat menantunya yang cantik itu bercinta dengannya dengan kesadaran sendiri. Kali ini akhirnya apa yang diimpikannya menjadi kenyataan.

Lidya tidak menjawab sindiran Pak Hasan. Matanya berulang kali menatap ke arah jendela dengan takut. Lidya segera mulai mengocok kontol Pak Hasan. Jemari lembut Lidya bergerak cepat mengocok penis Pak Hasan naik turun dengan harapan pria tua yang bejat itu segera mencapai klimaks.

“Ayo cepat, cepat…” desis Lidya, matanya terus beralih dari jendela ke kemaluan Pak Hasan. Lidya makin tidak sabar dan bertanya-tanya butuh waktu berapa lama lagi Pak Hasan akan menembakkan spermanya.

“Menyenangkan, sayang,” kata Pak Hasan, “Tapi percayalah, kalau cuma begini terus aku tidak akan cepat mencapai klimaks.”

Lidya mulai merasa pening. Dia benar-benar sangat stress. Pandangan matanya terus beralih dan berputar, cukup lama dia menatap penis Pak Hasan yang besarnya luar biasa itu. Mertuanya itu benar, kalau hanya begini saja pasti akan memakan waktu yang sangat lama.

“Dasar!” teriak Lidya kalut, dengan serta merta dia melepaskan pegangan pada kontol Pak Hasan dan menarik celana pendek sang mertua sampai ke bawah. Kontol besar milik mertuanya itu bergelantungan di depan wajah Lidya.

Lidya menarik nafas panjang karena lagi-lagi harus melakukan hal yang tidak begitu disukainya. Seandainya ini Andi, Lidya akan melakukannya dengan sukarela dan penuh rasa cinta, tapi kontol di depan wajahnya ini justru milik ayah dari Andi, mertuanya sendiri.

Lidya menarik batang penis Pak Hasan yang menegang dan berukuran besar. Si cantik itu sempat melirik ke arah mertuanya yang tersenyum meringis dengan wajah menghina. Lalu sambil mencoba menahan nafas agar tidak tersedak, kepala Lidya maju ke depan dan mulutnya membuka. Perlahan lidahnya yang mungil mulai menjilat ujung gundul kepala penis Pak Hasan. Gerakan Lidya makin lama makin cepat, dia berusaha menelusuri setiap jengkal penis Pak Hasan dengan lidahnya itu. Pak Hasan mendesah penuh kenikmatan.

Lidya menggelengkan kepalanya dengan jengkel karena penis Pak Hasan tidak segera mencapai klimaks walaupun dia sudah berusaha keras. Panik mulai merasuk ke dalam diri Lidya.

“Memang enak dijilati seperti itu, sayang,” kata Pak Hasan, “tapi aku tidak akan mengeluarkan sperma dan mencapai kepuasan maksimal hanya dengan cara seperti itu. Bersiap-siaplah. Sebentar lagi Andi akan segera pulang…”

“Ahhhhhhhh!” Lidya menjerit keras-keras karena panik dan bingung.

Setelah berpikir keras dan tak kunjung mendapat solusi, akhirnya Lidya menyerah. Tubuh indah wanita cantik itu pasrah dalam mendekap sang mertua yang bejat. Pak Hasan makin bergairah saat merasakan gesekan buah dada Lidya pada tubuhnya, baru kali inilah Lidya mau memeluknya. Menantunya yang cantik itu kini sedang meletakkan penis Pak Hasan tepat di pintu masuk surgawinya. Dengan jemarinya yang lentik, Lidya memasang penis sang mertua tepat di bawah lubang memeknya.

“Nah, gitu dong! Dari tadi kek!”, Pak Hasan terkekeh-kekeh dan menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan santai.

Lidya sempat ragu-ragu ketika dia mulai merasakan ujung kepala kontol mertuanya mengelus bibir vaginanya dengan lembut, tapi perasaan ragu itu hilang karena Lidya kemudian teringat apa yang akan terjadi seandainya dia tidak segera melayani Pak Hasan. Setelah menarik nafas panjang dan memejamkan mata menahan sakit, Lidya menurunkan badannya dan merasakan batang kemaluan sang mertua perlahan memasuki lubang vaginanya.

Kedua orang yang tengah bersenggama itu melenguh bersamaan. Mereka mendesahkan gairah dengan alasan yang berbeda. Lidya mendesahkan rasa gelisahnya karena telah melayani seorang pria yang bukan suaminya. Wanita itu merasa bersalah dan tidak berdaya karena diharuskan melayani ayah mertuanya sampai dia bisa orgasme dan ini semua berlangsung karena paksaan mertuanya yang bejat itu. Lenguhan panjang Pak Hasan adalah lenguhan kepuasan. Kebalikan dari apa yang dirasakan oleh Lidya, Pak Hasan merasa sangat puas bisa menyetubuhi menantunya yang memiliki tubuh luar biasa seksi itu. Semua paksaan dan intimidasi yang dilakukannya pada Lidya akhirnya berbuah juga, Lidya akhirnya mau melayaninya. sebenarnya Lidya tidak ingin ini semua terjadi karena Pak Hasan yang menyuruhnya melakukannya. Pria tua bejat itu amat menyukai kekuatan, dia bangga bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang di luar kebiasaannya, melakukan suatu hal yang biasanya tidak pernah atau tidak mungkin akan mereka lakukan dalam kondisi normal.

Lidya meremas pundak Pak Hasan karena rasa nikmat yang dia alami sudah di ambang batas. Wanita jelita itu bisa merasakan rasa hangat yang melanda seluruh tubuhnya. Cengkraman Lidya di pundak sang mertua membuat tubuh indah Lidya bergerak naik turun dengan kecepatan tinggi mengendarai penis Pak Hasan. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Lidya dia akan bersetubuh dengan Pak Hasan, apalagi harus memberikan pelayanan ekstra.

Pak Hasan makin menikmati permainan kali ini. Sudah dua kali dia bersetubuh dengan menantunya yang bohay itu, tapi baru kali ini Lidya sendiri yang mau melayaninya tanpa harus diperkosa. Pak Hasan menyandarkan tubuh ke belakang dan memejamkan mata menikmati detik demi detik saat memek Lidya naik turun dengan cepat mengendarai batang penisnya yang berdiri tegak menjulang ke atas. Batang kemaluan Pak Hasan mulai basah oleh cairan cinta Lidya. Buah dada Lidya yang indah mental ke atas dan ke bawah seiring gerakan tubuhnya. Keringat yang mengucur deras membasahi tiap inci bagian tubuh Lidya termasuk di puting susunya yang menegang ke depan.

Lidya berusaha mengenyahkan semua pikiran erotis dan nafsu birahi yang melanda seluruh badannya. Namun sebuah perasaan aneh membuatnya terangsang secara perlahan. Perasaan itu adalah wujud ketidakmampuannya untuk mengendalikan situasi, Lidya yang biasanya ceria dan enerjik itu kini berada dalam kendali seorang pria yang seharusnya menjadi figur ayah, bukannya malah melesakkan penisnya dalam-dalam ke tubuhnya. Tiap kali penis Pak Hasan melesak masuk dan menghantam dinding vaginanya dengan penuh kekuatan, Lidya mengeluarkan desahan demi desahan menyuarakan kenikmatan, tapi Lidya tidak akan mau mengakuinya.

Lidya berusaha keras membuat pria tua ini segera mencapai klimaks. Dia menggunakan seluruh kekuatan dan kecepatannya. Lidya bahkan mencoba melakukan gerakan-gerakan erotis yang selama mungkin bahkan belum pernah dia praktekkan pada suaminya sendiri. Wanita cantik itu sesekali memutar pinggulnya, membuat gerakan melingkar tiap kali bibir memeknya sudah menyentuh ujung batang penis Pak Hasan.

“Bagus sekali, nduk!” pria tua itu tertawa puas. “Begitu baru enak! Kenapa nggak dari tadi? Ayo teruskan! Teruskan!”

Lidya tidak akan sudi menjawab kata-kata sang mertua. Dia melanjutkan gerakan naik turun mengendarai batang kemaluan Pak Hasan dengan kecepatan yang makin meningkat. Makin lama makin cepat. Lidya menghantamkan pantatnya ke arah paha Pak Hasan yang gemuk, mengocok penis keriput sang mertua dengan memeknya dan berusaha keras membuat pria tua bejat itu mencapai titik akhir permainan cinta mereka.

Makin lama Lidya makin berani mengangkat pantatnya lebih tinggi dan menghantamkannya ke bawah dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi. Lubang vagina Lidya yang sudah basah oleh cairan cinta menelan seluruh batang kemaluan gemuk milik Pak Hasan. Lidya meneriakkan jeritan kekecewaan dan rasa panik, tapi bagi Pak Hasan, teriakan itu terdengar seperti kenikmatan yang makin memuncak.

Lidya melakukannya berulang-ulang kali, ia mengendarai batang kemaluan mertuanya dengan kecepatan tinggi seperti kesetanan. Lidya menghantamkan memeknya ke bawah sampai ke batas pangkal kemaluan Pak Hasan dengan keras. Naik turun naik turun. Berulang-ulang.

Pak Hasan serasa berada di nirwana. Pria tua itu menjerit dan melenguh dengan puas, dia sangat menikmati setiap detik saat memek menantunya yang cantik meremas penisnya yang besar dan menyukai tiap kali bibir memek Lidya mengatup dan menjepit batangnya saat tubuh indah Lidya naik turun dengan cepat. Sungguh sangat nikmat.

“Hampir!!” teriak Pak Hasan.

“Cepaaat! Cepaaaaat!!” jerit Lidya panik. Lidya memperkirakan sang mertua akan segera mengeluarkan air maninya. Seluruh desah dan tangisannya adalah karena paksaan Pak Hasan, tapi entah kenapa Lidya tidak yakin lagi. Dia tidak yakin apakah dia sudah berhasil membuat mertuanya itu mencapai klimaks, atau malah dirinya sendiri yang keenakan dan mendapatkan kepuasan batin.

Lidya masih bergetar dan tidak mampu mengembalikan kesadarannya dengan sempurna. Penis Pak Hasan masih terus berdenyut dan bergerak maju mundur tanpa terhenti di liang cintanya. Campuran antara kenikmatan dan rasa bersalah membuat Lidya tidak mampu melakukan apa-apa, seluruh tubuhnya lemas.

Cairan bening mengalir melalui sela-sela memek Lidya yang kini tersumpal oleh batang penis mertuanya sendiri. Lidya tidak peduli apakah dia sudah mencapai orgasmenya atau belum. Dia tidak peduli seandainya cairan cintanya meleleh, kalaupun benar dia sudah klimaks, istri Andi itu tidak ingin mengetahuinya. Lidya hanya punya satu keinginan saat ini dan itu adalah membuat Pak Hasan orgasme. Tubuh indah wanita muda itu terus bergerak naik turun, membiarkan penis sang mertua merajai liang cinta yang seharusnya hanya diserahkan pada sang suami.

Bibir memek Lidya menjepit kontol Pak Hasan lebih erat lagi dan sang mertua melenguh keenakan, mertua bejat itu kembali melesakkan satu sentakan keras ke dalam vagina Lidya. Gerakan tubuh Lidya yang turun ke bawah disambut oleh gerakan pinggul sang mertua yang mendorong batang kemaluannya ke atas. Sekali lagi Pak Hasan melenguh puas sebelum akhirnya menembakkan spermanya ke dalam vagina sang menantu.

“Akhirnyaa… keluaaar…” desah Lidya lemas. Seluruh tubuh wanita jelita itu basah oleh keringat dan dia juga terengah-engah kelelahan. Lidya hampir-hampir tidak bisa bernafas.

Terdengar bunyi bel berdentang.

Pak Hasan tersenyum mesra menatap menantunya yang ketakutan mendengar bel itu. Mertua bejat itu mencium bibir Lidya dan menampar pipi pantatnya dengan lembut. “Itu, anakku sudah pulang.” Kata pria tua itu. “Sana kau sambut suamimu, Nduk.”

Lidya segera bergegas melepaskan diri dari pelukan Pak Hasan. Dia buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari ke bawah menuju pintu depan.

###

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

BAGIAN EMPAT
TAMAT
Post a Comment